Film merupakan karya/media komunikasi yang mengandung nilai seni yang ditampilkan kepada khalayak ramai yang mempunyai tujuan untuk menyampaikan pesan yang tersirat maupun tersurat. Banyak genre film yang sudah cukup banyak tampil di publik, seperti horror, romance, comedy, dan lain-lain. Pembuatan film merupakan hal yang kompleks, tetapi element yang cukup penting dalam film adalah dari segi ide cerita, skenario, sutradara, dan aktor. Pada tanggal 17 Mei 2024 Komunikasi Binus menyelenggarakan kelas artis mengajar bersama: Umay Shahab  yang bertepatan pada ruang kelas 510 di Kampus Anggrek.

Muhammad Arfiza Shahab, yang sering kita kenal dengan Umay Shahab. Artis cilik yang debut pada umur 5 tahun dalam sinetron Wulan dan mulai dikenal publik saat membintangi sinetron Eneng dan Kaos Kaki Ajaib pada tahun 2007 silam. Kini ia telah tumbuh dewasa dengan segudang prestasi yang membanggakan seperti menjadi pemeran dan sutradara film pendek Cinta di Balik Awan, film layar lebar Kukira Kau Rumah pada tahun 2022 dan Mencuri Raden Saleh.

Pada kelas artis mengajar kali ini Umay Shahab menjelaskan secara detail tentang produksi film, mulai dari cara membuat ide cerita yang baik, hingga struggle yang dihadapi selama berada dalam dunia perfilman. Mengutip dari perkataan Umay, “Konsep dan cerita menjadi point yang paling penting dalam membuat film” ia percaya bahwa kesuksesan dari film adalah dari cara membuat cerita, konsep, dan cara menyampaikan kepada penonton. Sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa Umay Shahab sudah menjadi aktor sedari kecil, dan baru-baru ini ia menjadi sutradara dalam film Kukira Kau Rumah dan Ketika Berhenti di Sini. Pengalaman yang sudah ia jalani merupakan hasil panjang dari sebuah proses, ia menyampaikan “hal terpenting dalam film terletak pada prosesnya”. Umay Shahab membeberkan fakta bahwa dalam membuat script juga tidak bisa sekali jadi, ia banyak melalui revisi-revisi hingga belasan kali untuk bisa mendapatkan script yang pas untuk ditampilkan di film garapannya.

Selain itu, Umay menceritakan bagaimana sebuah skenario dibentuk. Dengan detail ia mengurai tahapan-tahapan penulisan skenario. Langkah pertama yang disebutkan Umay adalah mencari ide, gagasan utama, tema, dan kata kunci. Langkah tersebut menjadi yang pertama untuk membentuk kerangka yang nantinya akan menentukan karakter, tujuan, dan halangan yang dihadapi tokoh. Yang terakhir adalah merangkum dan mengembangkan kedua langkah tadi menjadi sebuah sinopsis. Umay juga memberikan pedoman konversi halaman ke durasi skenario, yang bisa kita lihat di bawah ini:

  • Durasi 30’ (18 s.d 24 halaman)
  • Durasi 60’ (40 s.d 55 halaman)
  • Durasi 90’ (65 s.d 70 halaman)
  • Durasi 120’ (75 s.d 90 halaman)

Dengan catatan: tidak selalu seperti pedoman diatas, ada beberapa penulis yang menerapkan 1 halaman = durasi 1 menit.

 

Umay Shahab juga membawa salah satu penulis dari rumah produksinya yaitu Cinemaku Picture, yang sudah cukup banyak menulis film. Penulis tersebut bercerita bahwa ia mulai menulis cerita dimulai dari sinetron, tetapi ia mempunyai cita-cita untuk bisa menulis untuk film, dan pada akhirnya ia diberikan kesempatan oleh Cinemaku Picture untuk menulis beberapa film.Cukup banyak insight dari Umay Shahab dan penulis tersebut dalam sesi artis mengajar yang diselenggarakan oleh Komunikasi Binus.

Sesi Q&A menarik perhatian beberapa mahasiswa, salah satu pertanyaanya adalah “Siapa yang bertanggung jawab atas pesan tersirat dalam sebuah film?”, Umay menjawab “yang bertanggung jawab penuh atas hal itu adalah sutradara, karena pada dasarnya sutradara yang paling mempunyai wewenang dalam mengatur apapun yang ada di film, seperti properti, aktor, hingga angle kamera.” Hal ini dalam memberikan pengetahuan yang cukup detail tentang dunia film yang sebenarnya dari praktisi atau profesional yang sudah mempunyai pengalaman cukup lama.

 

Pengalaman yang menarik memiliki sebuah artis mengajar menggantikan dosen. Topik yang dibawakan juga sangat menarik dan segar bagi para mahasiswa/i. Diharapkan program departemen komunikasi Binus ini dapat menaikkan minat para mahasiswa/i untuk tetap belajar hal baru dan tidak takut untuk berkembang.