Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi dengan orang lain. Berbagai macam hubungan antar manusia seperti hubungan profesional, pertemanan, romansa, kekeluargaan, atau hubungan lainnya dapat terbentuk dan diatur oleh komunikasi. Sebagai manusia, kita sudah melakukan banyak proses komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun begitu, masih banyak orang yang keliru terhadap proses komunikasi itu sendiri. Banyak yang menganggap bahwa komunikasi adalah bagaimana cara kita menyampaikan ide, informasi, perasaan, dan kesan kepada orang lain. Tetapi pada kenyataannya, komunikasi bukanlah sekedar menyampaikan, tetapi juga mendengarkan. Tanpa ada keterampilan mendengarkan yang baik, pesan yang disampaikan sebagus apapun tidak dapat diterima dan dipahami dengan baik. Dengan kata lain, proses komunikasi tidak akan berhasil tanpa mendengarkan.

Mendengarkan dapat didefinisikan sebagai proses aktif untuk menerima, menginterpretasikan, serta memahami pesan setelah menerima rangsangan (baik dari mendengar maupun membaca teks). Perlu diketahui bahwa mendengarkan dan mendengar adalah 2 hal yang sangat berbeda. Mendengarkan membutuhkan adanya perhatian dan usaha yang lebih untuk memahami arti maupun tujuan pesan. Proses pendengaran terdiri dari 5 langkah yaitu mendengar, memahami, mengingat, mengevaluasi, serta memberikan respons. Meski terdengar mudah, mendengarkan merupakan proses yang cukup kompleks. Kita perlu menyingkirkan segala gangguan agar dapat menempatkan atensi penuh kepada pesan yang disampaikan. Untuk memahami makna dan tujuan pesan, pahamilah berdasarkan nalar, nilai, perasaan, pengetahuan, dan ekspektasi kita sendiri. Selain itu, cobalah untuk menempatkan diri kita di posisi sang pembicara agar kita dapat lebih memahami apa yang dimaksud atau ingin disampaikannya. Perlu diingat kembali bahwa komunikasi merupakan proses yang berkelanjutan. Terdapat kemungkinan pesan yang disampaikan hari ini, diungkit atau digunakan kembali di masa yang akan datang. Maka kita perlu mengingat terlebih dahulu rangsangan yang kita dapatkan. Untuk mengevaluasi pesan, gunakanlah pemikiran kritis untuk memisahkan fakta serta opini pembicara. Dengan begitu, kita dapat memahami situasi dari perspektif sang pembicara namun tetap bersifat objektif. Setelah memahami pesan, barulah kita memberikan respons yang sesuai dengan konteks, situasi, serta karakteristik komunikator. Respons yang dimaksud tidak selalu bersifat verbal seperti kata-kata semangat, pujian, mengajukan pertanyaan terkait, memberikan konklusi, dan menyampaikan kembali pesan yang disampaikan, tetapi dapat pula bersifat nonverbal berupa anggukan, posisi badan yang condong kepada pembicara, tatapan mata yang fokus, serta menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai. Pastikanlah respons yang kita beri dapat meyakinkan pihak komunikator bahwa kita memang benar mendengarkannya. Di saat yang bersamaan, kita juga perlu berhati-hati dalam memberikan respons, karena melalui respons inilah orang–orang akan menilai kemampuan mendengarkan dan pemahaman kita. Penilaian tersebut secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana orang lain melakukan komunikasi dengan kita. Dengan kemampuan mendengarkan yang baik, kita dapat menghasilkan komunikasi yang efektif, interaksi timbal balik yang baik antar pelaku komunikasi, mempererat hubungan interpersonal yang kita miliki, hingga membuka kesempatan terbentuknya hubungan baru. Demikian pula sebaliknya.

Sayangnya, masih banyak orang yang sering menyela perkataan orang lain, mendengar tanpa memikirkan perasaan orang lain, mendengar tanpa perhatian, dan mendengar untuk menjawab, bukan untuk memahami. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa keabaian terhadap pentingnya mendengarkan masih menjadi ‘kebiasaan’. Keabaian seperti demikian tidak hanya dapat berdampak pada kegagalan komunikasi, tetapi juga pada kegagalan hubungan. Maka dapat disimpulkan, bahwa mendengarkan adalah langkah komunikasi yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan.

Referensi:

Edwards, A., Edwards, C., Wahl, S. T., & Myers, S. A. (2020). The Communication Age Connecting and Engaging. California: Sage Publications.

Indrajaya, T. (2015). PENTINGNYA KETRAMPILAN MENDENGAR DALAM MENCIPTAKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF. Jurnal Administrasi dan Manajemen Vol. 6, No. 2, 1-9.

Martoredjo, N. T. (2014). KETRAMPILAN MENDENGARKAN SECARA AKTIF DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL. 505-508.

Sari, A. W. (2016). PENTINGNYA KETRAMPILAN MENDENGAR DALAM MENCIPTAKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF. Jurnal EduTech Vol. 2 No. 1, 3-9.