People Innovation Excellence

Pemimpin Kuat Versus Pemimpin Demokratis

Empat abad lalu Niccolo Machiavelli menasehati Pangeran Italia begini: seorang pemimpin lebih baik ditakuti daripada dicintai. Pemimpin haruslah sosok yang kuat, berani, tegas dan mau melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya. Pemimpin model ini berperan untuk menanamkan rasa takut dan kepatuhan rakyat sekaligus menggaransi lahirnya negara yang digdaya yakni negara yang teritorinya luas, penduduknya melimpah, SDA kaya raya dan kekuatan militernya andal sehingga ditakuti kawan dan lawan.

Akhir-akhir ini nasehat Machiavelli  kembali bergema. Banyak orang, termasuk ilmuwan terkemuka yang selama ini dikenal sebagai pejuang HAM dan demokrasi tiba-tiba bersuara lantang perlunya pemimpin yang kuat, tegas dan berani. Berkembang kesan seakan Indonesia menjadi negara lemah dan berada di ambang kebangkrutan serta perpecahan sehingga untuk menyelamatkannya kita membutuhkan pemimpin yang kuat.

Tidak Populer

Setiap jaman memiliki persoalan dan model kepemimpinan yang khas. Nasehat Machivalli kontekstual untuk jamannya. Saat itu perang antar negara dan ekspansi wilayah merupakan fenomena yang terus berulang. Di dalam negeri, banyak daerah-daerah yang memberontak untuk memisahkan diri. Keamanan dan stabilitas politik kacau balau sehingga tidak kondusif untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Seiring perjalanan waktu, situasi berubah. J.F. Kennedy dalam  Pidato Pelantikan di Gedung Putih, 20 Januari 1961 mengingatkan bahwa tidak jamannya lagi manusia memanggul senjata. Perang adalah sejenis peradaban primitif yang harus diakhiri dan umat manusia kini harus bekerjasama untuk menghadapi musuh baru yang lebih mematikan yakni kemiskinan, kebodohan dan penyakit. Ketiga persoalan tersebut harus diantisipasi demi memelihara harapan manusia akan kehidupan yang terhormat dan bermartabat.

Dihadapkan pada persoalan terserbut, maka personifikasi pemimpin sebagai sosok yang gagah perkasa, berani, dan kuat sehingga ditakuti rakyat menjadi tidak populer. Pertama,  kemiskinan, kebodohan dan penyakit  tidak mungkin dihadapi dengan sistem komando, ancaman dan kekerasan. Kita butuh sosok pemimpin yang mampu mengambil inisiatif, memediasi dan mempersuasi rakyat. Dengan itu, setiap orang bisa secara kritis dan mandiri  mau terlibat dalam memajukan dan mensejahterakan hidup bersama.

Kedua, reformasi mulai berhasil meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi terwujudnya demokrasi dan perlindungan HAM.  Partai politik tumbuh pesat untuk mengedukasi politik rakyat, pers tampil sebagai kekuatan kontrol rezim yang amat diperhitungkan, dan semakin berfungsinya kelompok masyarakat sipil dalam menggerakan berbagai inisiatif pemberdayaan. Kalaupun masih terdapat beberapa kelemahan, tapi konsolidasi demokrasi dan perlindungan HAM harus terus dipelihara dan diperbaiki, bukannya dihambat apalagi dimatikan.

Ketiga,  pemimpin yang tegas dan kuat berpotensi mendiskriminasi kehidupan sosial dan membonsai kontrol publik. Biasanya pemimpin model ini cenderung bersikap standar ganda. Pemimpin bersikap tegas terhadap rakyat kecil termasuk menerapkan ancaman dan ketakutan terhadap setiap kekuatan yang mengancam kekuasaannya. Tapi di saat yang sama, pemimpin cenderung melindungi dan memperkaya keluarga dan kroni sehingga merusak rasa keadilan. Banyak contoh pemimpin kuat yang hidup bergelimang harta di tengah lautan kemiskinan rakyat kecil dan tertindas.

Keempat, sejarah mencatat bahwa pemimpin kuat cenderung menghambat dan menindas demokrasi serta HAM. Pemimpin kuat cenderung melebih-lebihkan pendekatan keamanan,  melampaui hukum bahkan tanpa segan melanggar konstitusi. Idi Amin di Uganda, Augusto Pinochet di  Cile, Ferdinand Marcos di Philipina, Moamar Qadafi di Libya, Saddam Husein di Irak adalah beberapa contoh pemimpin kuat. Akhir kekuasaan mereka umumnya tragis sebagai akibat perlawanan massif  rakyat yang lapar dan marah.

Pemimpin Demokratis

Joseph S Nye (2004) dalam  Soft Power: The Means to Success in World Politics menyatakan bahwa kepemimpinan modern hendaknya bertumpu pada soft power ketimbang hard powerSoft power adalah sosok pemimpin demokratis sementara hard power yang bertumpu pada sosok gagah berani dan kekuatan militer serta meniscayakan komando dan represi adalah model pemimpin kuat yang otoriter. Pemimpin demokratis mengutamakan usaha merangkul dan memikat sehingga dekat dan dicintai rakyat. Soft power kini menjadi model yang paling banyajk dianut karena dipandang mampu menjamin demokrasi dan HAM.

Pemimpin demokratis bertumpu pada tiga prinsip pokok. Pertama, pemimpin lahir dari rakyat melalui proses politik yang jujur, transparan dan bermartabat. Ia meraih kekuasaan atas dukungan tulus dan jujur rakyat. Legitimasi kepemimpinannya kuat karena pemimpin demokratis haram melakukan manipulasi, intimidasi dan kekerasan.

Kedua, pemimpin demokratis memandang rakyat sebagai subjek yang bebas dan memiliki kehendak untuk maju sehingga harus diperlakukan setara dan adil. Pemimpin harus intensif membangun dialog, tanpa lelah menegosiasikan berbagai kepentingan dan mampu menghasilkan beragam kebijakan dalam kultur dialogis. Meski terkesan rumit dan berliku, proses ini ternyata efektif untuk mendorong perubahan secara pasti dan berkelanjutan.

Ketiga, pemimpin demokratis mengandalkan keteladanan yang dilandasi kompetensi, prestasi dan keutamaan moral. Pemimpin tidak banyak mengumbar janji tetapi aktif membangun mimpi bersama rakyat dan mewujudkannya. Pemimpin demokratis mampu meraih hal-hal besar dengan langkah-langkah kecil yang konkret, terencana dan sistematis. Singkatnya, pemimpin demokratis adalah sosok sederhana, jujur dan pekerja keras yang mampu menawarkan visi yang realsitis dan program konkret untuk memajukan bangsa.

Pemilu 2014 merupakan momentum untuk melahirkan pemimpin demokratis. Rakyat harus mampu mengenal, menilai dan menentukan pilihan secara tepat. Latar belakang, catatan masa lalu dan visi capres/cawapres adalah rujukan kita untuk menilai siapakah yang pantas mendapatkan kepercayaan memimpin Indonesia lima tahun ke depan. ***

Catatan:

Romanus Ndau, Dosen Universitas Bina Nusantara, Jakarta, HP 082 193 729 749, email: romanlendong@yahoo.com, No Rek. BNI Cab Salemba 0142 135 243.a.n. Romanus Ndau 


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close