Coba ketik namamu sendiri di mesin pencari. Apa yang muncul? Bagi banyak orang, hasil itulah yang pertama kali dilihat oleh dosen, perekrut, atau calon mitra kolaborasi, bahkan sebelum mereka mengenal kita secara langsung.

Sumber : Unsplash

Banyak mahasiswa menganggap jejak digital hanya soal unggahan yang rapi. Padahal, cara kita berkomunikasi sehari-hari ikut membentuk kesan. Penelitian pada mahasiswa Generasi Z menemukan bahwa pesan kepada dosen sering ditulis seperti percakapan dengan teman, dan emoji yang dimaksudkan untuk bercanda bisa dibaca sebagai sindiran (Seno et al., 2025). Satu pesan yang kebablasan bisa bertahan lebih lama daripada niat awal kita.

Masalahnya, ruang personal dan profesional kini melebur dalam satu medium yang sama (Zulfikasari & Sulistio, 2025, dalam Seno et al., 2025). Di sinilah strategi komunikasi digital dibutuhkan. Strategi bukan berarti berpura-pura, melainkan sadar akan tujuan, audiens, dan nilai yang ingin ditunjukkan. Identitas akademik pun kini dibentuk oleh cara seseorang menampilkan kompetensi dan keterlibatannya di platform daring (Toprak, 2024, dalam Seno et al., 2025). Mahasiswa yang aktif berorganisasi, misalnya, dapat membagikan proses di balik sebuah acara beserta pelajaran yang didapat.

Mulailah dari kebiasaan kecil: jeda sebelum mengunggah, sesuaikan gaya bahasa dengan lawan bicara, dan pastikan setiap interaksi mencerminkan nilai yang kamu pegang.

Jadi, jejak seperti apa yang ingin kamu tinggalkan? Yuk, pelajari strategi komunikasi digital di program studi Communication BINUS dan bangun reputasimu sejak sekarang!

 

Artikel 2 :

Ide Hebat Tidak Cukup: Mengapa Kemampuan Komunikasi Menentukan Keberhasilan Pemimpin dan Tim?

Sumber : Unsplash


Pernahkah kamu punya ide bagus, tetapi tidak ada yang mendukungnya? Sering kali masalahnya bukan pada ide, melainkan pada cara menyampaikannya.

Banyak orang mengira keberhasilan hanya ditentukan oleh keahlian teknis. Padahal, kajian literatur menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif bergantung pada komunikasi yang jelas dan terbuka agar arah kerja dipahami sama oleh seluruh anggota tim. Sebaliknya, komunikasi yang lemah dapat memicu salah persepsi, tumpang tindih tugas, konflik, hingga keterlambatan pekerjaan (Zebua et al., 2026).

Hal yang sama berlaku dalam kolaborasi. Pemimpin yang melibatkan tim dalam pengambilan keputusan dan menjaga keadilan pembagian tugas lebih mudah membangun komitmen bersama (Zebua et al., 2026). Di kalangan mahasiswa, tugas kelompok pun sering tertunda karena pesan dibaca tetapi tidak dibalas, sehingga keputusan tak kunjung disepakati (Seno et al., 2025). Bayangkan dampaknya ketika tim lintas disiplin harus bekerja dalam satu proyek.

Karena itu, komunikasi bukan hanya milik mahasiswa ilmu komunikasi. Apa pun bidangmu, kamu akan memimpin, bernegosiasi, dan mengambil keputusan bersama orang lain. Mulailah dari hal kecil: sampaikan pendapat dengan jelas, dengarkan sebelum menanggapi, dan beri respons tegas dalam diskusi tim.

Jadi, sudahkah kamu melatih kemampuan yang membuat ide-idemu didengar? Yuk, kenali lebih jauh program studi Communication BINUS dan siapkan dirimu menjadi komunikator andal di bidang apa pun!

Daftar Pustaka

Komunikasi Digital Mahasiswa Generasi Z: Pergeseran Norma Akademik di Era Society 5.0. (2025). Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner , 1(03), 1015-1025.https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/view/690

Zebua, M. S., Waruwu, B. S., Zai, H. F., Zega, S. P. J., Zebua, D. D., Waruwu, E., & Halawa, F. (2026). Peran kepemimpinan dalam meningkatkan kinerja tim: Tinjauan literatur tentang komunikasi, motivasi, dan kolaborasi. Tuhenori: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 4(1), 24–28.https://doi.org/10.62138/tuhenori.v4i1.143