Kenal dari Layar, Percaya Begitu Saja? Mengungkap Makna Komunikasi Digital Lewat Film Missing
Pernah merasa sudah mengenal seseorang hanya karena sering bertukar pesan, melihat Instagram Story, atau mengikuti aktivitasnya di media sosial? Di era digital, komunikasi memang semakin mudah dilakukan tanpa harus bertemu langsung. Namun, kemudahan ini juga menghadirkan tantangan baru. Pesan yang tidak dibalas bisa menimbulkan salah paham, unggahan media sosial dapat membentuk persepsi tertentu, dan identitas seseorang di dunia maya belum tentu menggambarkan keseluruhan dirinya. Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan film thriller Missing (2023).

Film yang dibintangi Storm Reid ini mengikuti perjalanan June Allen, seorang remaja yang berusaha mencari ibunya yang menghilang saat sedang berlibur di Kolombia. Karena tidak bisa mencari ibunya secara langsung, June memanfaatkan teknologi digital, mulai dari mesin pencari, media sosial, hingga rekaman dan berbagai informasi online. Dalam prosesnya, June menemukan bahwa jejak digital dapat membantu mengungkap kebenaran, tetapi juga menyimpan informasi yang menyesatkan.
Ketika Layar Menjadi Penghubung Sekaligus Penghalang
Kisah dalam Missing dapat dianalisis melalui teori Computer-Mediated Communication (CMC), yaitu komunikasi yang berlangsung melalui perantara teknologi komputer atau perangkat digital. Bentuk komunikasi ini kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Gen Z, mulai dari percakapan melalui WhatsApp, interaksi di media sosial, hingga pertemanan yang berawal dari komunitas online.
CMC memungkinkan seseorang berkomunikasi tanpa dibatasi jarak dan waktu. Namun, komunikasi digital juga memiliki keterbatasan. Dalam percakapan berbasis teks, misalnya, ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh tidak selalu dapat ditangkap dengan jelas. Akibatnya, sebuah pesan sederhana bisa ditafsirkan berbeda oleh penerimanya.
Film Missing juga memperlihatkan bagaimana informasi digital dapat mempengaruhi cara seseorang memahami situasi dan mengambil keputusan. Jejak digital memang dapat menjadi petunjuk penting, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperiksa konteks dan kebenarannya sebelum dipercaya.
Jejak Digital dan Tantangan Memahami Orang Lain
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membentuk penilaian terhadap seseorang berdasarkan profil, unggahan, komentar, atau cara mereka membalas pesan. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua informasi yang dibagikan bersifat lengkap, akurat, atau sesuai dengan kenyataan.
Melalui film Missing, kita diajak untuk lebih kritis dalam menggunakan teknologi sebagai sumber informasi. Kemampuan memeriksa fakta, memahami konteks pesan, menjaga privasi, dan membangun komunikasi yang jelas menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat untuk bertukar pesan. Teknologi juga mempengaruhi cara manusia membangun hubungan, membentuk persepsi, dan memahami realitas sosial.
Tertarik memahami bagaimana media digital membentuk perilaku dan hubungan antarmanusia? Yuk, eksplorasi lebih jauh dunia komunikasi, media, dan teknologi bersama Communication di BINUS University! Saatnya mengasah kemampuan berpikir kritis dan memahami fenomena digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena di era serba online, kemampuan berkomunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga memahami makna di baliknya.
Comments :