Perkembangan media sosial membuat Generasi Z semakinmudah mengetahui aktivitas, pencapaian, dan pengalamanorang lain. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya, seseorang dapat melihat kehidupanteman sebaya yang tampak menyenangkan, sukses, ataupenuh pengalaman menarik. Namun, paparan tersebutterkadang menimbulkan perasaan takut tertinggal dari orang lain, yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO).

FOMO merupakan perasaan khawatir ketika seseorangmenganggap orang lain sedang menikmati pengalamanberharga yang tidak ia ikuti. Fenomena ini dapat mendorongseseorang untuk terus memantau media sosial, mengikuti tren, atau membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Fenomena tersebut dapat dikaji melalui film animasi Inside Out 2 produksi Pixar. Film ini menceritakan Riley yang mulaimenghadapi perubahan emosi ketika memasuki masa remaja. Kehadiran emosi baru, terutama Anxiety atau kecemasan, menggambarkan bagaimana keinginan untuk diterima dan kekhawatiran terhadap masa depan dapat memengaruhikeputusan serta cara seseorang memandang dirinya.

Meskipun Inside Out 2 tidak secara khusus menceritakanFOMO akibat media sosial, konflik emosional Riley dapatdigunakan sebagai bahan analisis untuk memahami tekanansosial, perbandingan diri, dan kebutuhan akan penerimaan. Dengan menggunakan Teori Perbandingan Sosial dari Leon Festinger, artikel ini membahas bagaimana perbandingandengan orang lain dapat memengaruhi cara Generasi Z menilai dirinya sendiri.

 1. Perbandingan Sosial dan Keinginan untuk DiterimaLingkungan

Salah satu persoalan yang dialami Riley dalam Inside Out 2 adalah keinginannya untuk diterima oleh lingkunganpertemanan yang baru. Ketika mengikuti kegiatan hoki dan bertemu dengan teman-teman yang lebih tua, Riley mulaimemikirkan bagaimana dirinya akan dipandang oleh orang lain. Ia berusaha menyesuaikan diri agar dapat diterima dan memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompoktersebut.

Situasi ini dapat dikaitkan dengan Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory) yang dikemukakan Leon Festinger pada 1954. Teori tersebut menjelaskan bahwamanusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasikemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan dirinyadengan orang lain.

Dalam konteks Riley, kehadiran teman-teman baru menjadisalah satu faktor yang memengaruhi cara ia memandangdirinya sendiri. Ia tidak hanya memikirkan kemampuanbermain hoki, tetapi juga mempertimbangkan bagaimanadirinya dapat diterima dalam kelompok tersebut.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam kehidupan GenerasiZ. Ketika melihat teman sebaya memperoleh prestasi, mengikuti kegiatan menarik, atau memiliki banyak teman, seseorang bisa merasa perlu melakukan hal yang sama agar tidak tertinggal. Jika perbandingan tersebut dilakukan secaraterus-menerus, seseorang dapat menjadi terlalu bergantungpada penilaian orang lain.

Dengan demikian, film ini dapat digunakan untuk memahamibahwa keinginan untuk diterima merupakan bagian darihubungan sosial, tetapi kebutuhan tersebut juga dapatmenimbulkan tekanan ketika seseorang merasa harus selalumemenuhi harapan lingkungannya.

2. Peran Kecemasan dalam Fenomena FOMO

Karakter Anxiety menjadi bagian penting dalam konflik Riley. Dalam penjelasan resmi Pixar, Anxiety digambarkan sebagaiemosi yang berusaha mempersiapkan Riley menghadapiberbagai kemungkinan buruk dan mendorongnya agar dapatmenyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya. Keinginanuntuk menghindari kesalahan membuat Anxiety berusahamengendalikan banyak keputusan Riley.

Gambaran tersebut dapat dikaitkan dengan FOMO, yaituketakutan akan tertinggal dari pengalaman menyenangkanatau berharga yang dialami orang lain. Dalam kehidupansehari-hari, FOMO dapat muncul ketika seseorang melihatteman-temannya menghadiri acara, mengikuti tren, ataumemperoleh pengalaman yang tidak ia miliki.

Media sosial dapat memperkuat situasi tersebut karenaseseorang dapat melihat berbagai aktivitas orang lain dalamwaktu singkat. Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkandalam Computers in Human Behavior Reports pada 2024 menjelaskan bahwa penggunaan media sosial pada remajamemiliki peluang sekaligus risiko bagi kesejahteraan mereka. Dampaknya bergantung pada karakteristik individu, carapenggunaan, dan karakteristik platform.

Jika dikaitkan dengan film, kecemasan Riley terhadappenerimaan sosial dapat menjadi analogi untuk memahamiperasaan yang muncul ketika seseorang merasa harus selalumengikuti perkembangan lingkungan. Namun, Anxiety dalamfilm tidak secara langsung menggambarkan FOMO akibatmedia sosial. Hubungan tersebut merupakan interpretasi untukkeperluan analisis komunikasi.

Oleh karena itu, film ini mengajak penonton memahamibahwa keinginan untuk diterima tidak seharusnya membuatseseorang kehilangan kesempatan untuk mengenali kebutuhandan nilai dirinya sendiri.

 

3. Relevansi FOMO dengan Kehidupan Generasi Z di Era Digital

Perkembangan teknologi digital membuat komunikasiantarteman berlangsung tidak hanya secara langsung, tetapijuga melalui berbagai platform media sosial. Informasimengenai aktivitas, pencapaian, dan pengalaman orang lain dapat dilihat kapan saja. Kondisi ini memberikan kesempatanuntuk tetap terhubung, tetapi juga dapat memunculkankebiasaan membandingkan diri.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin melihatunggahan temannya yang mengikuti banyak organisasi, menghadiri acara, atau mendapatkan pencapaian akademik. Ia kemudian merasa bahwa dirinya kurang aktif atau tertinggal, meskipun sebenarnya setiap orang memiliki kebutuhan, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Dalam perspektif Teori Perbandingan Sosial, situasi tersebutdapat dipahami sebagai proses ketika seseorang menggunakanpengalaman orang lain sebagai acuan untuk menilai dirinya. Apabila acuan yang digunakan hanya berfokus pada pencapaian orang lain, penilaian terhadap diri sendiri dapatmenjadi kurang seimbang.

Penelitian mengenai FOMO dan penggunaan media sosialpada remaja juga menunjukkan adanya hubungan yang kompleks antara rasa takut tertinggal, penggunaan media sosial yang bermasalah, dan kesejahteraan. Hubungan tersebuttidak selalu sama pada setiap kelompok usia dan tidak dapatdisederhanakan sebagai akibat langsung dari penggunaanmedia sosial.

Melalui kisah Riley, Inside Out 2 dapat menjadi bahan refleksibahwa penerimaan sosial memang penting, tetapi seseorangtidak harus selalu mengikuti pilihan orang lain untukmendapatkan tempat dalam suatu kelompok. Komunikasiyang terbuka, dukungan teman, serta kemampuan memahamiperasaan diri sendiri dapat membantu seseorang menghadapitekanan sosial dengan lebih baik.

 

Kesimpulan

Fenomena FOMO pada Generasi Z merupakan topik yang relevan untuk dikaji melalui Teori Perbandingan Sosial Leon Festinger. Teori ini membantu menjelaskan bagaimanaseseorang menilai kemampuan dan dirinya denganmembandingkan diri terhadap orang lain, terutama ketikamenghadapi tuntutan penerimaan sosial.

Melalui Inside Out 2, pengalaman Riley dalam menyesuaikandiri dengan lingkungan pertemanan baru dan konflik yang melibatkan Anxiety dapat digunakan untuk menggambarkantekanan emosional yang berkaitan dengan keinginan untukditerima. Meskipun film ini tidak secara khusus membahasFOMO akibat media sosial, kisah Riley memiliki keterkaitankonseptual dengan fenomena perbandingan diri yang dapatterjadi di era digital.

Pada akhirnya, media sosial dan lingkungan pertemanansebaiknya menjadi sarana untuk membangun hubungan, bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai diri sendiri. Memahami perbedaan pengalaman setiap orang dan membangun komunikasi yang suportif dapat membantuGenerasi Z menjalani hubungan sosial secara lebih sehat.

Sumber