Bayangkan menjalani hari biasa—menyapa tetangga, berangkat kerja, berbincang dengan pasangan—lalu mengetahui bahwa setiap gerak diperhatikan jutaan orang. Premis itulah yang membuat The Truman Show (1998) terasa mengganggu sekaligus dekat. Truman Burbank mengira Seahaven adalah kota kecil yang wajar, padahal hidupnya berlangsung di dalam set televisi raksasa. Film ini dapat dibaca melalui dramaturgi Erving Goffman, yang menjelaskan bagaimana orang menampilkan diri di hadapan orang lain. Dengan kacamata tersebut, Seahaven bukan hanya latar cerita, melainkan panggung yang mengatur siapa boleh tampil, apa yang terlihat, dan kesan apa yang harus dipercaya.

Ilustrasi panggung komunikasi: tim berinteraksi dalam sesi Wikimedia Conference 2016; bukan cuplikan film.

Dalam The Presentation of Self in Everyday Life, Goffman memakai metafora teater untuk membahas interaksi sosial. Ia menyebut bagian depan sebagai front stage: ruang ketika seseorang memainkan peran di hadapan audiens dan menjaga kesan tertentu. Backstage adalah wilayah yang memungkinkan persiapan, koordinasi, atau perilaku yang tidak ingin ditampilkan kepada penonton. Konsep ini tidak berarti setiap percakapan sehari-hari palsu. Goffman justru menunjukkan bahwa orang menyesuaikan cara berbicara dan bertindak dengan situasi. Di Seahaven, gagasan tersebut diperbesar secara ekstrem: seluruh kota menjadi front stage, sedangkan ruang kontrol produksi menjadi backstage bagi para pembuat acara.

Hampir setiap orang yang berinteraksi dengan Truman adalah bagian dari pertunjukan. Istrinya, Meryl, tetangga, rekan kerja, bahkan orang yang sekilas berpapasan dengannya membantu mempertahankan kesan bahwa kota itu normal. Mereka tampil sebagai sebuah tim pertunjukan: peran masing-masing harus selaras agar satu kebohongan besar tetap tampak masuk akal. Dialog promosi produk yang tiba-tiba diucapkan Meryl di rumah menunjukkan betapa tipis batas kehidupan privat dan kebutuhan siaran. Adegan itu lucu karena terasa janggal, tetapi sekaligus memperlihatkan relasi kuasa: percakapan intim pun dapat diarahkan untuk kepentingan sponsor dan penonton.

Di balik panggung, Christof dan kru mengatur cahaya, cuaca, jalur kendaraan, serta pertemuan yang dialami Truman. Mereka tidak sekadar merekam kejadian, melainkan menyusun kondisi agar kejadian tertentu mungkin berlangsung. Rencana itu bekerja melalui pengelolaan kesan. Seahaven dibuat ramah dan indah; perjalanan ke luar kota digambarkan berbahaya; ketakutan Truman terhadap air dipelihara agar ia tidak meninggalkan set. Narasi yang terus diulang oleh keluarga dan teman membuat batas antara informasi dan manipulasi kabur. Ketika banyak orang mengulang versi cerita yang sama, Truman kesulitan menemukan ruang untuk membandingkannya dengan pengalaman sendiri.

Namun, Truman bukan aktor yang tahu ia sedang berakting. Perbedaan ini penting. Dalam interaksi biasa, orang umumnya menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang lain dan dapat mengatur kesan, meski tidak selalu dengan rencana matang. Truman mengira tindakannya berlangsung di dunia privat. Penonton di dalam film, sebaliknya, mengonsumsi kehidupan itu sebagai hiburan. Karena itu, konsep dramaturgi membantu membaca bukan hanya penampilan Truman, tetapi juga ketimpangan pengetahuan: kru tahu panggungnya buatan, audiens tahu acara itu rekayasa, sementara tokoh utama tidak diberi kesempatan menyetujui perannya.

Retakan kecil mulai mengganggu pertunjukan. Sebuah benda jatuh dari langit, siaran radio terdengar seolah mengikuti perjalanan Truman, dan orang-orang di sekitarnya terkadang mengulang pola yang sama. Dalam bahasa dramaturgi, kejadian semacam ini mengancam definisi situasi yang telah dibangun. Truman mulai mencocokkan petunjuk dan menyadari bahwa penjelasan yang diterimanya tidak konsisten. Hubungan sosial pun berubah: sapaan yang dulu terasa akrab mulai tampak seperti dialog hafalan. Film memperlihatkan bahwa kepercayaan tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi juga pada apakah ucapan cocok dengan pengalaman yang diamati seseorang.

Kota itu sendiri berfungsi seperti perangkat komunikasi. Jalan, papan petunjuk, cuaca, dan cerita tentang bahaya membatasi pilihan Truman tanpa harus terus-menerus memakai kekerasan terbuka. Pesan tentang dunia luar dibingkai agar ia merasa aman jika tetap tinggal. Ketika Truman berusaha pergi, sistem menjawab dengan hambatan yang disusun untuk mengembalikan keadaan ke pola semula. Panggung sosial, dengan demikian, bukan sekadar tempat orang menunjukkan identitas. Panggung juga bisa dirancang oleh pihak yang memiliki sumber daya lebih besar, sementara orang lain hanya menerima batas dan aturan yang sudah tersedia.

Penonton film mungkin menikmati kepintaran produksi Seahaven, tetapi film juga mengajak kita memikirkan tanggung jawab penonton. Dalam cerita, jutaan orang menyaksikan kehidupan Truman dan merasa mengenalnya, padahal kedekatan itu dibangun tanpa persetujuan. Mereka ikut membentuk pasar bagi acara tersebut. Pandangan ini relevan saat media mengubah keseharian menjadi tontonan: perhatian publik dapat memberi kuasa kepada pembuat konten, tetapi juga mengaburkan batas privasi orang yang direkam. Perbedaan pentingnya adalah persetujuan, kendali atas cerita, dan kemampuan untuk berhenti tampil.

Dramaturgi Goffman membuat The Truman Show lebih dari kisah seseorang yang terkurung di studio. Film ini memetakan hubungan antara panggung, penonton, dan pihak yang mengatur akses ke backstage. Penampilan dapat membantu orang menyesuaikan diri, tetapi juga dapat dipakai untuk menyembunyikan kepentingan dan menutup pilihan. Keberanian Truman tidak hanya terlihat ketika ia meninggalkan Seahaven; ia juga mulai mempertanyakan siapa yang berhak menentukan kenyataan baginya. Pada akhirnya, film mengingatkan bahwa komunikasi yang sehat membutuhkan ruang bagi seseorang untuk mengetahui konteks, menguji cerita, dan memilih apakah ia bersedia menjadi bagian dari pertunjukan.

Sumber informasi dan gambar

Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. Edinburgh: University of Edinburgh Social Sciences Research Centre, 1956.

The Truman Show (1998), situs resmi film.

Poster House, koleksi poster The Truman Show.

Hasive, “Communication team session at Wikimedia Conference,” Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0. Foto ilustrasi; bukan cuplikan film.