Manajemen Kesan dan Fenomena FOMO Mahasiswa melalui Interaksi Digital
Pendahuluan
Lingkungan kampus tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan ruang kelas. Percakapan berlanjut melalui grup pesan, story, unggahan kegiatan, dan komentar. Di ruang digital itu mahasiswa menampilkan pencapaian, pertemanan, kesibukan organisasi, serta gaya hidup yang ingin diasosiasikan dengan dirinya. Pada saat yang sama, mereka dapat merasa tertinggal ketika melihat acara, obrolan, atau peluang yang tidak diikuti. Situasi tersebut mempertemukan manajemen kesan dengan FOMO atau fear of missing out. Artikel ini mengkaji bagaimana mahasiswa mengatur persona melalui interaksi digital dan bagaimana kebutuhan untuk tetap terhubung dapat menimbulkan tekanan sosial.

Manajemen kesan dalam perspektif dramaturgi
Erving Goffman menjelaskan interaksi sosial melalui metafora panggung. Individu menampilkan front stage ketika berada di hadapan orang lain dan menyiapkan back stage untuk mengatur perilaku yang tidak ingin ditampilkan. Media sosial membuat kedua ruang itu berdekatan. Foto kegiatan organisasi, unggahan tugas, dan story bersama teman menjadi panggung depan yang dapat dipilih, diedit, dan diberi konteks. Mahasiswa juga memiliki ruang belakang melalui akun privat, close friends, atau percakapan personal. Pilihan apa yang diposting, kapan diunggah, dan siapa yang diberi akses menunjukkan strategi komunikasi. Persona digital bukan selalu kebohongan; ia merupakan seleksi aspek diri yang dianggap relevan dengan audiens tertentu.
Mengapa FOMO muncul
FOMO menggambarkan kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang berharga tanpa kita. Penelitian Przybylski dan kolega mengaitkannya dengan kebutuhan psikologis untuk merasa terhubung dan memiliki pilihan. Dalam konteks kampus, FOMO dapat dipicu oleh foto acara, rapat organisasi, nongkrong, atau informasi magang yang muncul di layar sebelum mahasiswa sempat memprosesnya. Notifikasi dan fitur story yang hilang dalam 24 jam memperkuat kesan bahwa keputusan harus dibuat segera. FOMO tidak selalu berarti kecemasan berat; kadang ia berupa dorongan ringan untuk membuka aplikasi berulang kali agar tidak melewatkan kabar. Intensitasnya dipengaruhi rasa diterima, kepercayaan diri, dan kualitas relasi offline.
Hubungan antara persona dan tekanan sosial
Manajemen kesan dapat menjadi cara mahasiswa memperoleh pengakuan, tetapi juga sumber kelelahan. Ketika unggahan dinilai melalui jumlah like, balasan, atau undangan, mahasiswa mungkin merasa harus terus menunjukkan aktivitas. Mereka dapat menghadiri kegiatan bukan karena minat, melainkan takut dianggap tidak gaul atau kehilangan kesempatan membangun jaringan. Sebaliknya, mahasiswa yang jarang mengunggah belum tentu tidak aktif; mereka mungkin memilih privasi atau memiliki akses sosial yang berbeda. Tekanan muncul ketika standar persona tertentu dianggap sebagai norma umum. Perbandingan sosial yang terus-menerus juga dapat membuat pengalaman kampus terasa kurang berharga jika tidak tampak di layar.
Pola komunikasi yang dapat diteliti
Penelitian dapat menggabungkan analisis isi profil, survei, dan wawancara. Analisis isi menelaah jenis unggahan, penggunaan caption, simbol kedekatan, dan perbedaan antara akun utama dengan akun kedua. Survei dapat mengukur intensitas penggunaan, kecenderungan membandingkan diri, rasa takut tertinggal, kebutuhan akan penerimaan, dan perilaku mengecek notifikasi. Wawancara membantu menjelaskan keputusan di balik unggahan: apakah mahasiswa sedang membangun citra profesional, mencari dukungan, atau sekadar berbagi momen. Konsep Goffman dapat dipakai untuk memetakan front stage dan back stage, sedangkan skala FOMO membantu melihat hubungan antara kebutuhan keterhubungan dan penggunaan media yang bermasalah.
Peran kelompok dan algoritma
FOMO tidak muncul hanya dari karakter pribadi. Struktur platform ikut menentukan apa yang terlihat melalui rekomendasi, urutan story, tanda sedang online, dan pemberitahuan aktivitas teman. Grup kelas atau organisasi memiliki norma tidak tertulis tentang kecepatan membalas pesan dan kewajiban hadir dalam acara. Mahasiswa yang bekerja, memiliki tanggung jawab keluarga, atau memilih privasi dapat terlihat kurang aktif meskipun kontribusinya besar. Penelitian perlu memperhitungkan perbedaan tersebut agar tidak menyalahkan individu. Analisis percakapan dapat melihat kapan ajakan sosial berubah menjadi tekanan dan apakah ada mekanisme alternatif bagi mahasiswa yang tidak selalu bisa hadir secara fisik maupun digital.
Negosiasi citra di ruang yang berbeda
Mahasiswa jarang memiliki satu audiens tunggal. Unggahan yang cocok untuk teman dekat belum tentu sesuai untuk dosen, keluarga, atau calon pemberi kerja. Karena itu, mereka menegosiasikan bahasa, visual, dan tingkat keterbukaan di setiap ruang. Akun utama mungkin menampilkan prestasi dan kegiatan organisasi, sedangkan akun privat digunakan untuk humor atau keluhan. Perbedaan ini menunjukkan kemampuan segmentasi audiens, tetapi juga dapat menambah beban untuk terus mengingat siapa yang melihat. Penelitian dapat menggali momen ketika strategi tersebut berhasil dan saat terjadi kebocoran konteks, misalnya unggahan close friends tersebar ke luar kelompok. Peristiwa semacam itu memperlihatkan batas antara kontrol diri dan kontrol platform.
Keseimbangan daring dan luring
Pengalaman kampus yang sehat memerlukan ruang untuk hadir tanpa dokumentasi. Pertemuan tatap muka dapat dimulai dengan kesepakatan sederhana, seperti tidak mewajibkan unggahan atau memberi jeda sebelum membalas pesan. Teman yang memahami batas akan mengurangi kemungkinan FOMO berubah menjadi rasa bersalah. Mahasiswa juga dapat melakukan audit mingguan terhadap akun yang diikuti: apakah konten tersebut memberi informasi, dukungan, atau justru memicu perbandingan yang melelahkan. Kegiatan organisasi sebaiknya menyediakan jalur informasi yang tidak bergantung pada satu platform sehingga mahasiswa tidak perlu online sepanjang hari. Keseimbangan ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan menempatkannya sebagai alat komunikasi yang dapat diatur sesuai kebutuhan manusia dan ritme kehidupan kampus.
Membangun interaksi digital yang sehat
Solusi tidak cukup berupa anjuran mengurangi waktu layar. Mahasiswa perlu memiliki pilihan komunikasi yang lebih beragam: grup yang informatif tanpa menuntut respons terus-menerus, kalender kegiatan yang transparan, dan kebiasaan mengonfirmasi informasi sebelum merasa tertinggal. Organisasi kampus dapat menghindari budaya unggahan yang membuat kehadiran digital seolah menjadi syarat partisipasi. Individu juga dapat menetapkan waktu tanpa notifikasi, memilih audiens dengan sadar, dan mengingat bahwa unggahan merupakan potongan pengalaman, bukan gambaran utuh kehidupan seseorang. Dukungan teman dan dosen penting ketika FOMO berubah menjadi tekanan psikologis yang mengganggu tidur, belajar, atau relasi.
Kesimpulan
Interaksi digital memberi mahasiswa ruang untuk mengelola kesan sekaligus menghadirkan risiko FOMO. Persona yang dirancang dengan cermat dapat membantu membangun identitas akademik dan jaringan, tetapi tuntutan untuk selalu terlihat aktif dapat menimbulkan kelelahan dan perbandingan sosial. Analisis komunikasi perlu memperhatikan konteks audiens, norma kelompok, serta perbedaan akses dan kenyamanan tiap mahasiswa. Dengan literasi digital, desain komunikasi kampus yang inklusif, dan kebiasaan reflektif, media sosial dapat menjadi ruang keterhubungan tanpa memaksa semua orang memainkan peran yang sama. Yang penting bukan selalu hadir di layar, melainkan merasa memiliki tempat dalam komunitas kampus secara nyata dan bermakna.
Sumber
Sumber akademik dan bacaan pendukung:
- Przybylski et al., Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
- Wiley Journal of Community Psychology, social media use and FOMO among college students https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/jocc.12181
- Goffman and self-presentation in university students’ social media profiles https://journals.muni.cz/mujlt/article/view/11836
- Indonesian study of second accounts and impression management https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSCM/article/view/25393
Comments :