Pernah nggak sih, udah punya ide konten yang menurut kamu keren, tapi begitu mulai nulis script malah jadi kayak baca buku pelajaran? Awalnya mau bikin konten yang seru. Tapi setelah script selesai: “Selamat pagi, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan…” Nah, bisa jadi masalahnya bukan di idenya, tapi di cara kamu menulis script. Buat yang sering bikin video, tugas kampus, podcast, atau konten media sosial, script itu sebenarnya penting banget. Script membantu kita tahu apa yang mau disampaikan dan bikin proses produksi jadi lebih terarah. Tapi ada beberapa kesalahan yang sering banget dilakukan ketika menulis script.

 

1. Script Ditulis Kayak Makalah

Ini salah satu kesalahan paling umum. Karena terbiasa bikin tugas kuliah, kita kadang otomatis menulis script dengan bahasa yang terlalu formal.

Contohnya:

“Pada era perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, penggunaan media sosial telah mengalami peningkatan yang signifikan di kalangan masyarakat.”

Secara penulisan mungkin oke. Tapi coba bayangin kalimat itu diucapkan di depan kamera. Capek duluan. Kalau script dibuat untuk konten video, tulislah seperti manusia sedang ngomong.

Misalnya:

“Sekarang hampir semua orang punya media sosial. Bahkan, sehari aja nggak buka TikTok rasanya ada yang kurang.”

Jauh lebih natural, kan? Script yang bagus bukan cuma enak dibaca, tapi juga enak diucapkan.

2. Kebanyakan Basa-Basi di Awal

Kesalahan berikutnya adalah terlalu lama masuk ke inti pembahasan.

Contohnya:

“Halo semuanya, kembali lagi bersama saya di channel ini. Semoga kalian dalam keadaan baik. Pada video kali ini kita akan membahas sesuatu yang tentunya sangat menarik…”

Sampai sini aja penonton mungkin sudah mulai mikir: “Oke… kapan masuk intinya?” Di dunia konten, beberapa detik pertama sangat penting untuk menarik perhatian audiens. Daripada terlalu panjang basa-basi, coba langsung kasih sesuatu yang bikin orang penasaran.

Misalnya:

“Kenapa konten kamu udah bagus tapi tetap nggak ada yang nonton?”

Nah, pertanyaan seperti ini bikin audiens merasa, “Lah, kok gue?” Baru setelah itu masuk ke pembahasannya.

3. Script Terlalu Panjang dan Penuh Informasi

Kadang kita merasa semakin banyak informasi yang dimasukkan, semakin bagus kontennya. Padahal belum tentu. Script yang terlalu panjang bisa bikin pembicara kesulitan menghafal, penyampaian jadi monoton, dan audiens juga bisa kehilangan fokus. Misalnya kamu mau membuat konten tentang public speaking. Daripada membahas 10 tips sekaligus, mungkin lebih efektif memilih 3 tips utama dan membahasnya dengan jelas. Ingat: Konten bukan tempat untuk memasukkan semua informasi yang kamu punya. Pilih informasi yang memang penting untuk audiens. ]Kalau masih ada informasi tambahan, bisa dijadikan konten berikutnya.

Terus, Script yang Bagus Itu Kayak Gimana?

Sebenarnya nggak ada satu formula yang selalu cocok untuk semua konten. Tapi kamu bisa menggunakan struktur sederhana: Hook → Isi → Penutup

Hook

Bagian pertama yang bikin orang tertarik.

Contoh:

“3 kesalahan ini mungkin bikin video kamu terasa membosankan.”

Isi

Jelaskan poin utama dengan bahasa yang mudah dipahami. Jangan takut menggunakan contoh, cerita, atau pengalaman supaya pembahasannya nggak terasa seperti membaca materi kuliah.

Penutup

Akhiri dengan kesimpulan atau ajakan.

Misalnya:

“Jadi, sebelum record, coba baca script kamu keras-keras. Kalau terdengar kayak makalah, mungkin sudah waktunya diedit.”

Simple, tapi lebih terasa natural.

Coba Baca Script Kamu dengan Suara Keras

Ada satu cara simpel untuk mengetahui script kamu sudah enak atau belum: Baca keras-keras. Kalau saat dibaca kamu merasa: “Ini kok aneh ya?” atau “Napasku habis di tengah kalimat.” Berarti script-nya mungkin perlu diperbaiki. Karena script untuk video bukan cuma soal bagaimana kalimat tersebut terlihat di layar. Yang lebih penting adalah bagaimana kalimat itu terdengar ketika diucapkan.

Jadi, Jangan Cuma Nulis. Coba Ngobrol.

Menulis script sebenarnya nggak harus serumit itu. Jangan terlalu fokus membuat kalimat yang kelihatan pintar sampai lupa bahwa ada manusia yang akan mendengarkan. Tulis seperti kamu sedang berbicara dengan seseorang. Buat kalimat yang pendek. Gunakan bahasa yang sesuai dengan audiens. Dan yang paling penting, jangan takut mengedit script berkali-kali. Karena script yang bagus bukan selalu script yang paling formal atau paling panjang. Tapi script yang bisa membuat pesan kamu sampai ke audiens tanpa terasa seperti sedang membaca buku teks. Jadi, sebelum bilang, “Kok video gue kaku banget, ya?” Coba cek script-nya dulu. Siapa tahu masalahnya bukan di cara kamu ngomong. Tapi script-nya yang dari awal udah ngajak ribut.