Di era digital, komunikasi menjadi semakin mudah. Seseorang dapat menyampaikan pendapat melalui media sosial, mengirim pesan dalam hitungan detik, atau membagikan pengalaman kepada ribuan orang tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, di tengah kemudahan untuk berbicara tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita masih benar-benar mendengarkan?

Sumber ChatGPT

Komunikasi pada dasarnya bukan hanya mengenai bagaimana seseorang menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut diterima dan dipahami. Rogers dan Farson (1957) memperkenalkan konsep active listening, yaitu proses mendengarkan secara aktif dengan memberikan perhatian terhadap pesan dan berusaha memahami sudut pandang orang lain. Bagi mereka, mendengarkan bukan sekadar menerima suara, tetapi merupakan bagian penting dalam membangun hubungan dan pemahaman.

Permasalahan ini semakin kompleks dalam komunikasi digital. Media sosial memungkinkan banyak orang berbicara secara bersamaan sehingga perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan. Penelitian Feng et al. (2015) menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah informasi di media sosial dapat menciptakan kondisi information overload, ketika terlalu banyak informasi harus diproses dalam waktu yang terbatas.

Sumber: Artificial Intelegence

Fenomena tersebut juga dapat memengaruhi kualitas percakapan. Penelitian tentang komunikasi dalam ruang digital menemukan bahwa ketika jumlah informasi dan partisipan meningkat, percakapan dapat berubah menjadi “cacophony”, yaitu kondisi ketika komunikasi menjadi semakin ramai tetapi partisipasi dan informasi bermakna per orang justru menurun (Lorenz-Spreen et al., 2019).

Di sinilah kemampuan mendengarkan menjadi semakin penting. Weger et al. (2014) menemukan bahwa respons yang menunjukkan active listening dapat menghasilkan persepsi kualitas hubungan yang lebih positif dibandingkan beberapa bentuk respons lainnya.

 

Dengan demikian, tantangan komunikasi modern bukan hanya bagaimana mendapatkan kesempatan untuk berbicara, tetapi bagaimana menciptakan ruang agar orang lain merasa didengar. Ketika setiap orang berlomba menyampaikan suara, kemampuan untuk berhenti sejenak, memberikan perhatian, dan memahami pesan orang lain justru menjadi bentuk komunikasi yang semakin bernilai.

 

Pada akhirnya, komunikasi yang bermakna tidak ditentukan oleh seberapa banyak seseorang berbicara, tetapi juga oleh seberapa dalam seseorang mampu mendengarkan.

 

Referensi

Feng, L., Hu, Y., Li, B., Stanley, H. E., Havlin, S., & Braunstein, L. A. (2015). Competing for attention in social media under information overload conditions. PLOS ONE, 10(7), e0126090.

Lorenz-Spreen, P., Oswald, L., Lewandowsky, S., & Hertwig, R. (2019). Information overload in group communication: From conversation to cacophony in the Twitch chat. Royal Society Open Science, 6.

Rogers, C. R., & Farson, R. E. (1957). Active Listening. University of Chicago Industrial Relations Center.

Weger, H., Jr., Bell, G. C., Minei, E. M., & Robinson, M. C. (2014). The relative effectiveness of active listening in initial interactions. International Journal of Listening, 28(1), 13–31.