Memasuki era saat ini, hampir secara keseluruhan platform digital penuh dengan iklan. Ketika sedang mengakses aplikasi TikTok muncul ads, bahkan membuka Instagram muncul sponsored post, dan saat menonton YouTube juga harus melawati iklan terlebih dahulu. Brand saat ini sedang berlomba-lomba untuk memperoleh atensi para konsumen, termasuk Gen Z yang jadi sasaran utama banyak campaign digital saat ini. Namun hal yang menarik, Gen Z juga menjadi generasi yang mudah bosan dengan iklan digital. Hal ini terjadi pada Gen Z dikarenakan sejak kecil memang sudah hidup di lingkungan yang serba cepat dan penuh informasi. Dalam beberapa menit scrolling TikTok saja, kita dapat melihat puluhan hingga ratusan konten sekaligus.

Hal ini menyebabkan attention span menjadi lebih pendek dibanding generasi sebelumnya. Banyak orang sekarang sudah terbiasa menerima informasi secara cepat, singkat, dan langsung pada inti informasi. Melihat hal tersebut, iklan yang terlalu panjang atau terlalu hard selling lebih mudah dilewati. Terkadang baru melihat beberapa detik opening video iklan saja, tanpa berpikir panjang para konsumen bisa langsung swipe. Bahkan jika informasi iklan tersebut terlalu formal atau terkesan terlalu terlihat sedang “menjual” produk tanpa adanya selipan informasi yang menarik. Para konsumen terutama Gen Z lebih menyukai konten yang terasa alami dibanding konten yang terlalu jelas sedang promosi. Saat ini, cara brand berkomunikasi juga mulai berubah mengikuti kebiasaan Gen Z.

Banyak brand sekarang lebih memilih menggunakan soft selling dibanding hard selling. Mereka membuat konten yang lebih santai, mengikuti tren media sosial, bahkan terkadang dibuat seperti konten biasa agar tidak terlalu terasa seperti iklan. Situasi ini juga terlihat dari cara admin media sosial brand saat ini berkomunikasi. Banyak brand mulai menggunakan bahasa yang lebih santai, lucu, mudah dipahami, bahkan seperti berkomunikasi dengan teman sendiri. Hal ini tentu bertujuan agar brand terlihat lebih dekat dengan konsumen dan tidak terkesan bersifat resmi atau kaku. Para Gen Z saat ini bukan hanya mencari produk yang menarik, melainkan juga mencari pengalaman dan hubungan emosional dari sebuah brand.

Oleh sebab itu, masih banyak brand saat ini mulai berlomba-lomba untuk mengemas promosi yang relatable dan engaging agar lebih mudah diterima para konsumen. Konten yang berisi informasi yang terlalu kaku justru lebih cepat dilewati dibanding konten yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekarang banyak orang sudah terlalu terbiasa melihat konten iklan setiap hari. Hal ini mengakibatkan para konsumen menjadi lebih selektif dalam memilih konten yang ingin mereka lihat. Apabila isi konten tersebut tidak memiliki daya tarik dari beberapa detik pertama, langsung dilewati tanpa pikir panjang. Hal ini membuat banyak brand sekarang berusaha mengemas iklan yang terasa seperti konten biasa agar tidak langsung dianggap sebagai promosi. Peristiwa ini sebenarnya juga berpengaruh pada persaingan di media sosial semakin ketat. Seluruh brand ingin viral, sekaligus ingin masuk FYP, dan relevan di mata Gen Z.

Saat ini masih banyak tren digital yang mengikuti topik yang sedang ramai diperbincangkan. Terkadang sebuah brand dapat mengikutinya dengan menggunakan meme atau bahasa gaul agar terlihat lebih dekat dengan konsumen muda. Banyaknya konten digital juga membuat Gen Z mudah mengalami kelelahan. Dalam kurun waktu satu hari, seseorang dapat melihat tren baru, topik baru yang sedang viral, dan pengenalan iklan dari banyaknya brand. Dengan hal ini secara perlahan para konsumen akan menjadi lebih bosan disebabkan merasa terus menerima banyak dorongan digital tanpa adanya jeda.

Peristiwa ini menjadikan sebuah tantangan besar bagi dunia komunikasi pemasaran di era saat ini. Brand tidak dapat lagi sekadar mengunggulkan iklan yang biasa untuk memberikan daya tarik perhatian para pelanggan. Mereka diminta untuk memahami tentang bagaimana cara Gen Z berkomunikasi, tren apa yang relevan di era sekarang, dan bagaimana membuat konten yang terasa lebih autentik. Melihat perkembangan komunikasi digital saat ini, fenomena ini sangat menarik karena memperlihatkan bahwa komunikasi digital terus berubah mengikuti kebiasaan konsumen. Di era sekarang, memperoleh perhatian konsumen ternyata jauh lebih sulit dibanding beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, brand perlu untuk terus menyesuaikan agar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan tren digital sekarang.