Satu pesan singkat di grup tugas bisa mengubah suasana sepanjang hari. Kalimat “ya sudah, terserah” yang dikirim sambil terburu-buru dapat terbaca sebagai sindiran, padahal pengirimnya benar-benar menyerahkan pilihan. Teman yang belum membalas dianggap tidak peduli, sementara ia sedang mengikuti kelas. Situasi seperti ini akrab dalam pergaulan mahasiswa: percakapan terus berlangsung, tetapi maksudnya belum tentu sampai. Kemudahan menghubungi seseorang ternyata tidak otomatis membuat kita memahami orang tersebut. Di balik layar yang selalu menyala, komunikasi tetap membutuhkan perhatian terhadap konteks, perasaan, dan cara orang lain memaknai pesan.

Dalam komunikasi interpersonal, makna terbentuk melalui hubungan antara orang yang berbicara dan orang yang menerima pesan. Pilihan kata berinteraksi dengan pengalaman, kedekatan, serta situasi masing-masing. Sapaan yang terasa lucu di antara sahabat belum tentu nyaman bagi anggota kelompok yang baru bergabung. Karena itu, pesan yang sudah terkirim belum menjadi bukti bahwa komunikasi berhasil. Kita masih perlu mengetahui apakah orang lain menangkap maksud yang sama, memiliki informasi yang cukup, dan merasa mendapat kesempatan untuk memberi tanggapan. Tanpa umpan balik itu, dua orang bisa merasa sedang membahas hal yang sama, padahal masing-masing membawa pengertian berbeda tentang tujuan percakapan yang sedang berlangsung.

Keterbatasan pesan tertulis memperbesar ruang salah tafsir. Dalam lima eksperimen tentang surel, Justin Kruger dan rekan-rekannya menemukan bahwa orang cenderung melebihkan kemampuan mereka menyampaikan nada pesan. Pengirim mengetahui apakah dirinya sedang bercanda atau serius, sehingga mudah menganggap penerima juga mengetahuinya. Padahal, surel tidak menyediakan intonasi seperti percakapan bersuara.[1] Penelitian itu membahas surel, tetapi membantu kita memikirkan kembali kebiasaan membaca percakapan digital sehari-hari: rasa yakin terhadap maksud sendiri perlu disertai kesediaan memeriksa pemahaman orang lain.

Perbedaan budaya membuat proses tersebut semakin berlapis. Sebagian orang terbiasa menyampaikan keberatan secara langsung; sebagian lainnya memilih ungkapan yang lebih halus demi menjaga hubungan. Dalam kerja kelompok, “mungkin bagian ini bisa dipikirkan lagi” dapat dimaksudkan sebagai kritik penting, tetapi justru dianggap saran tambahan. Kebiasaan ini tidak bisa dipetakan secara kaku berdasarkan suku atau negara. Lingkungan keluarga, pengalaman organisasi, bahasa yang digunakan, dan hubungan kekuasaan turut membentuk cara seseorang berbicara. Bertanya lebih berguna daripada terburu-buru memberi cap pada kelompok tertentu.

Kemampuan berkomunikasi lintas budaya juga dapat dilatih. Panduan UNESCO yang disusun Darla K. Deardorff menempatkan keterbukaan, penghormatan, empati, dan mendengarkan untuk memahami sebagai unsur penting kompetensi antarbudaya.[2] Bagi mahasiswa, latihan itu bisa dimulai dengan memberi ruang kepada teman untuk menjelaskan kebiasaannya. Mengapa ia memilih diam saat rapat? Apakah ia memerlukan waktu untuk menyusun pendapat, atau merasa tidak aman menyampaikan keberatan? Jawabannya perlu datang dari orang tersebut. Kita tidak dapat mengetahui seluruh latar belakang seseorang hanya dari satu perilaku.

Empati membantu kita menahan kesimpulan yang terlalu cepat. Saat pesan terasa dingin, ada baiknya membedakan isi yang benar-benar tertulis dari dugaan tentang niat pengirim. “Ia membalas dua kata” merupakan pengamatan; “ia meremehkanku” sudah menjadi penafsiran. Kita dapat mengatakan, “Aku belum menangkap maksudmu, boleh dijelaskan?” Dengan begitu, percakapan berangkat dari kebutuhan akan kejelasan. Mengakui bahwa seseorang merasa tersinggung juga tidak mewajibkan kita menyetujui semua pendapatnya. Perasaan dapat dihargai sambil tetap membicarakan isi kritik dan batas perilaku yang dapat diterima.

Mendengarkan aktif membuat empati lebih nyata. Materi Harvard Ombuds Office menjelaskan teknik seperti pertanyaan terbuka, klarifikasi, menyampaikan kembali gagasan, dan merangkum pembicaraan.[3] Dalam diskusi, mahasiswa bisa mencoba, “Jadi, kamu keberatan karena pembagian tugasnya belum jelas, bukan karena menolak membantu. Betul?” Pertanyaan penutup memberi kesempatan untuk mengoreksi rangkuman kita. Ketika percakapan tertulis terus memunculkan tafsir yang bertentangan, panggilan suara atau pertemuan yang disepakati dapat membantu menjelaskan maksud. Pilihan medianya sebaiknya mempertimbangkan kenyamanan dan waktu kedua pihak, terutama ketika emosi sedang tinggi dan masing-masing mulai sibuk membela diri.

Di organisasi kampus, komunikasi efektif terlihat dari kesepakatan yang dapat dijalankan. Instruksi “tolong segera dibereskan” meninggalkan terlalu banyak pertanyaan tentang pelaksana, hasil, dan tenggat. Pesan yang menyebut tugas serta waktunya memberi anggota pegangan yang sama. Setelah rapat, ringkasan keputusan membantu memeriksa kembali apa yang disepakati. Kebiasaan ini juga memberi ruang bagi anggota yang sebelumnya belum sempat berbicara untuk meminta penjelasan. Jika muncul keberatan, kelompok dapat membahas alasannya sebelum menganggap seseorang tidak kompak. Perbedaan pendapat kemudian menjadi bagian dari pekerjaan bersama, bukan ancaman terhadap pertemanan.

Kebiasaan tersebut berguna saat memasuki lingkungan kerja. Pesan kepada rekan atau atasan perlu menjelaskan konteks, kebutuhan, dan langkah berikutnya. Kecepatan membalas tidak selalu menunjukkan kesungguhan bekerja; batas jam kerja dan prioritas tugas juga perlu dibicarakan. Saat terjadi kesalahan, menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki lebih membantu daripada menyerang pribadi. Mahasiswa dapat mulai melatihnya lewat koordinasi kepanitiaan dan proyek kelas, termasuk meminta maaf secara jelas ketika ucapannya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Pada akhirnya, kedekatan digital perlu dirawat melalui kesediaan berdialog. Kita tidak harus memiliki pandangan yang seragam untuk dapat bekerja sama, tetapi perlu memastikan bahwa perbedaan dibicarakan dengan hormat. Sebelum menekan kirim, tanyakan apakah pesan kita cukup jelas. Sebelum membalas, pastikan kita memahami persoalannya. Dari kebiasaan kecil itu, relasi sosial dapat menjadi lebih terbuka. Untuk mempelajari komunikasi yang membantu orang saling memahami, yuk bergabung dengan Ilmu Komunikasi BINUS.

Sumber informasi

[1] Kruger, J., Epley, N., Parker, J., & Ng, Z.-W. (2005). Egocentrism over e-mail: Can we communicate as well as we think? Journal of Personality and Social Psychology, 89(6), 925–936.

[2] Deardorff, D. K. (2020). Manual for Developing Intercultural Competencies: Story Circles. UNESCO/Routledge.

[3] Brodrick, M. (tanpa tahun). Active Listening Techniques. Harvard Ombuds Office.

Sumber foto

Gambar 1 — Ugwulebo, “Participants brainstorming”. Lisensi: CC BY-SA 4.0

Gambar 2 — woodleywonderworks, “Team Meeting”. Lisensi: CC BY 2.0

Gambar 3 — Hasive, “Communication team session at Wikimedia Conference”. Lisensi: CC BY-SA 3.0

Foto digunakan sebagai ilustrasi. Ukuran tampilan disesuaikan. Sumber diakses pada 22 Oktober 2026.