Di era modern, kemampuan seorang pemimpin dalammembangun komunikasi yang baik menjadi salah satu faktorpenting untuk mendapatkan kepercayaan publik. Seorangpemimpin tidak hanya dituntut untuk mengambil keputusan, tetapi juga harus mampu menyampaikan pesan, menunjukkansikap, dan menjaga citra dirinya di hadapan masyarakat. Hal ini menjadi semakin penting ketika setiap tindakan dan pernyataan pemimpin dapat menjadi perhatian media.

Fenomena tersebut digambarkan dalam The Crown, series drama Netflix yang terinspirasi dari berbagai peristiwa dalamkehidupan Ratu Elizabeth II dan perjalanan pemerintahannya. Series ini memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi, tanggung jawab kerajaan, serta dinamika politik salingberkaitan dalam membentuk citra seorang pemimpin. Namun, The Crown merupakan dramatisasi fiksi, sehinggapenggambarannya tidak dapat dianggap sebagai catatansejarah yang sepenuhnya akurat.

Melalui series ini, strategi komunikasi pemimpin dapat dikajiuntuk memahami bagaimana citra publik dibangun, bagaimana pesan disampaikan dalam situasi formal, dan bagaimana kepercayaan masyarakat berkaitan dengan perilakuserta konsistensi seorang pemimpin.

1. Citra Pemimpin sebagai Bagian dari KomunikasiPublik

Salah satu gambaran strategi komunikasi dalam The Crown terlihat melalui cara Ratu Elizabeth II menyampaikan pidatokepada masyarakat. Pidato publik bukan sekadarpenyampaian informasi, tetapi juga menjadi kesempatan bagipemimpin untuk menunjukkan sikap, tanggung jawab, dan kedekatannya dengan masyarakat.

Netflix menjelaskan bahwa dalam alur series, Elizabeth mulaimempertimbangkan cara berkomunikasi yang lebih dekatdengan masyarakat setelah gaya penyampaian pidatonyamendapat kritik. Pidato Natal melalui televisi kemudianmenjadi salah satu bentuk komunikasi yang ditampilkandalam series tersebut.

Hal inimenunjukkanbahwacarapesandisampaikandapatmemengaruhibagaimanaseorangpemimpindipersepsikanoleh publik. Pemilihan kata, nada bicara, ekspresiwajah, dan kesesuaianpesandengansituasimerupakanunsur yang dapatdiperhatikandalamkomunikasipublik.

Dalam konteks masa kini, hal serupa dapat ditemukan ketikapemimpin menyampaikan pernyataan melalui konferensi pers, wawancara, atau media sosial. Pesan yang jelas dan sikapyang konsisten dapat membantu membangun kepercayaan, sedangkan komunikasi yang kurang peka terhadap situasimasyarakat berpotensi menimbulkan kritik.

2. Analisis Teori Dramaturgi Erving Goffman

Strategi komunikasi Ratu Elizabeth II dapat dianalisismenggunakan teori Dramaturgi dari Erving Goffman. Teori inimenjelaskan kehidupan sosial melalui analogi pertunjukanteater, yaitu ketika seseorang menampilkan peran tertentusesuai dengan situasi dan orang-orang yang menjadiaudiensnya. Salah satu konsep utamanya adalah front stage dan back stage.

Front stage atau panggung depan merupakan ruang ketikaseseorang menampilkan dirinya di hadapan publik. DalamThe Crown, konsep ini dapat dilihat melalui penampilan Ratu Elizabeth II saat menyampaikan pidato, menghadiri acara resmi, atau menjalankan tugas kerajaan. Sikap formal, pilihanbusana, bahasa tubuh, dan cara berbicara menjadi bagian daripenampilan publik yang melekat pada perannya sebagai ratu.

Sementara itu, back stage atau panggung belakang merupakanruang ketika seseorang mempersiapkan penampilannya atauberada di luar tuntutan penampilan publik. Dalam series ini, kehidupan pribadi Elizabeth dan percakapannya dengankeluarga memperlihatkan ketegangan antara perasaan pribadidan tanggung jawab sebagai pemimpin.

Perbedaan kedua ruang tersebut membantu menjelaskanbahwa seorang pemimpin dapat menghadapi tuntutan untukmempertahankan citra publik, meskipun memiliki persoalanpribadi. Namun, menjaga citra tidak selalu berarti berpura-pura. Dalam perspektif dramaturgi, penampilan seseorangjuga berkaitan dengan peran sosial dan harapan audiensterhadap dirinya.

3. Peran Media dalam Membentuk Kepercayaan Publik

Media memiliki peran penting dalam membentuk caramasyarakat mengenal dan menilai seorang pemimpin. DalamThe Crown, kehidupan keluarga kerajaan menjadi perhatianmedia, sehingga peristiwa pribadi maupun keputusan publikdapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap institusikerajaan.

Salah satu contoh yang diangkat dalam series adalah responsRatu Elizabeth II setelah kematian Putri Diana pada 1997. Menurut kronologi yang dipublikasikan Netflix, suasanapublik terhadap keluarga kerajaan berubah ketika sang ratu belum segera menyampaikan pernyataan kepada masyarakat. Ia kemudian kembali ke London dan memberikan pidato yang ditujukan kepada bangsa.

Contoh tersebut memperlihatkan pentingnya ketepatan waktudan kepekaan dalam komunikasi publik. Dalam situasi yang melibatkan emosi masyarakat, keterlambatan memberikantanggapan dapat menimbulkan pertanyaan atau kritik. Sebaliknya, pesan yang disampaikan secara tepat dan menunjukkan kepedulian dapat membantu masyarakatmemahami sikap seorang pemimpin.

Fenomena ini juga relevan dengan era digital, ketikapernyataan pemimpin dapat menyebar dengan cepat dan memperoleh beragam tanggapan. Karena itu, komunikasipublik tidak cukup hanya berfokus pada penyampaian pesan, tetapi juga perlu mempertimbangkan konteks, kebutuhanaudiens, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.

Kesimpulan

Series The Crown memberikan gambaran mengenaipentingnya strategi komunikasi dalam membangun citra dan menjaga kepercayaan publik. Melalui teori Dramaturgi Erving Goffman, penampilan Ratu Elizabeth II di hadapanmasyarakat dapat dipahami sebagai bagian dari peran sosialyang menuntut sikap formal dan pengelolaan kesan, sementara kehidupan pribadinya menunjukkan sisi lain di balik peran tersebut.

Selain itu, series ini memperlihatkan bahwa komunikasipublik perlu mempertimbangkan waktu, situasi, dan perasaanmasyarakat. Dalam kehidupan modern, prinsip tersebut tetaprelevan bagi pemimpin, pejabat, maupun figur publik yang harus menghadapi perhatian media dan tuntutan masyarakat.

Pada akhirnya, citra yang baik bukan hanya dibangun melaluipenampilan atau kata-kata, melainkan juga melaluikomunikasi yang jelas, sikap yang peka, dan konsistensiantara pesan dengan tindakan.

Sumber