Memahami Perasaan di Era Komunikasi Digital: Tantangan Empati dalam Chat dan Media Sosial
Pernah merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara seseorang membalas pesan, menghindari tatapan mata, atau tiba-tiba menjadi lebih diam dari biasanya? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencoba memahami perasaan orang lain melalui hal-hal kecil yang tidak selalu disampaikan secara langsung. Sebuah senyuman bisa menyimpan keraguan, keheningan dapat menghadirkan kecanggungan, dan tatapan mata terkadang mengungkapkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di era komunikasi digital, ketika percakapan semakin banyak berlangsung melalui chat dan media sosial, memahami perasaan orang lain menjadi tantangan tersendiri. Pesan singkat seperti “oke”, “terserah”, atau sekadar tanda baca dapat ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang. Tanpa intonasi suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, kita kerap mengisi kekosongan informasi dengan asumsi sendiri. Akibatnya, pesan yang sebenarnya sederhana dapat menimbulkan berbagai interpretasi.
Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika kita melihat bagaimana manusia berkomunikasi bukan hanya melalui apa yang dikatakan, tetapi juga melalui apa yang dirasakan, ditunjukkan, bahkan disembunyikan.
Past Lives: Kisah tentang Perasaan yang Tidak Selalu Terucapkan
Film Past Lives (2023), karya sutradara dan penulis naskah Celine Song, menghadirkan gambaran mendalam tentang kompleksitas hubungan antarmanusia. Film ini mengikuti kisah Nora dan Hae Sung, dua teman masa kecil di Korea Selatan yang terpisah ketika keluarga Nora pindah ke Kanada. Bertahun-tahun kemudian, keduanya kembali terhubung dan mencoba memahami hubungan mereka di tengah perubahan kehidupan, jarak, waktu, dan pilihan masing-masing.
Alih-alih mengandalkan konflik besar atau dialog yang dramatis, Past Lives justru membangun emosinya melalui percakapan sederhana, tatapan yang tertahan, serta momen-momen hening yang terasa penuh makna. Hubungan Nora dan Hae Sung berkembang dalam ruang yang ambigu: ada kedekatan emosional, kenangan masa lalu, dan kemungkinan tentang kehidupan yang mungkin terjadi, tetapi tidak pernah sepenuhnya terwujud.
Salah satu kekuatan film ini terletak pada kemampuannya membuat penonton merasakan emosi para karakter tanpa harus selalu diberi penjelasan. Penonton diajak memperhatikan detail kecil dan menafsirkan makna di balik interaksi mereka. Dalam konteks komunikasi, pendekatan ini memperlihatkan bahwa pesan interpersonal tidak selalu hadir dalam bentuk pernyataan yang eksplisit.

1. Tatapan Mata: Ketika Mata Menjadi Bagian dari Percakapan
Dalam komunikasi nonverbal, kontak mata dapat berperan dalam menunjukkan perhatian, ketertarikan, keraguan, maupun ketidaknyamanan. Tatapan juga membantu seseorang mengatur interaksi, misalnya ketika ingin menunjukkan bahwa ia sedang mendengarkan atau menunggu respons dari lawan bicara.
Dalam Past Lives, interaksi antara Nora dan Hae Sung memperlihatkan bagaimana tatapan mata dapat membangun kedekatan sekaligus menegaskan jarak emosional. Ada momen ketika keduanya tampak memahami satu sama lain tanpa perlu banyak berbicara. Namun, tatapan yang sama juga dapat terasa menyakitkan ketika mereka menyadari bahwa kedekatan masa lalu tidak serta-merta menghapus perubahan yang terjadi dalam kehidupan masing-masing.
Menariknya, kontak mata tidak memiliki arti yang selalu sama. Tatapan yang lama tidak otomatis menandakan cinta, begitu pula menghindari tatapan tidak selalu berarti seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Maknanya perlu dipahami berdasarkan situasi, hubungan antarpihak, dan konteks interaksi.
Di sinilah kemampuan membaca komunikasi nonverbal menjadi penting: bukan untuk menebak perasaan orang lain secara mutlak, melainkan untuk lebih peka terhadap kemungkinan makna yang muncul dalam sebuah interaksi.
2. Keheningan: Pesan yang Tidak Memerlukan Banyak Kata
Salah satu elemen paling kuat dalam Past Lives adalah keheningan. Film ini tidak selalu mengisi setiap adegan dengan dialog. Sebaliknya, jeda percakapan memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan kecanggungan, nostalgia, dan emosi yang sulit diungkapkan oleh para karakter.
Dalam kajian komunikasi, diam bukan berarti tidak terjadi komunikasi. Keheningan dapat menjadi bagian dari proses pertukaran makna. Seseorang mungkin diam karena merasa nyaman, sedang memikirkan sesuatu, takut menyakiti orang lain, atau belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya.
Ketika Nora dan Hae Sung bersama, keheningan di antara mereka memperlihatkan kompleksitas hubungan yang tidak mudah didefinisikan. Mereka memiliki sejarah bersama, tetapi juga membawa pengalaman dan kehidupan yang berbeda. Tidak semua hal dapat diselesaikan melalui percakapan, sebab ada perasaan yang bahkan sulit dipahami oleh orang yang mengalaminya sendiri.
Hal ini juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat seorang teman tiba-tiba lebih banyak diam, misalnya, kita mungkin langsung menganggapnya marah atau tidak tertarik berbicara. Padahal, ia bisa saja sedang lelah, membutuhkan waktu untuk berpikir, atau belum siap membicarakan persoalan tertentu.
Karena itu, memahami keheningan membutuhkan kepekaan sekaligus kesediaan untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
3. Gestur dan Ekspresi: Memahami Emosi di Balik Interaksi
Selain tatapan dan keheningan, gestur serta ekspresi wajah turut membentuk komunikasi nonverbal. Gerakan tubuh, perubahan ekspresi, postur, dan cara seseorang merespons lawan bicara dapat memberikan petunjuk mengenai suasana emosional dalam suatu interaksi.
Dalam Past Lives, ekspresi karakter yang tampak sederhana justru membantu membangun lapisan emosi cerita. Ketegangan yang tidak diucapkan, senyum yang muncul di tengah kecanggungan, atau perubahan ekspresi saat membicarakan masa lalu membuat penonton menangkap adanya perasaan yang lebih kompleks daripada sekadar percakapan biasa.
Komunikasi nonverbal menjadi menarik karena sering kali berlangsung secara spontan, tetapi tetap membutuhkan interpretasi. Satu gestur dapat memiliki makna berbeda bagi orang yang berbeda. Bahkan, kata-kata dan bahasa tubuh seseorang terkadang tampak tidak selaras, sehingga memunculkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Namun, ekspresi wajah dan gestur bukanlah alat untuk membaca pikiran seseorang secara pasti. Maknanya perlu dipahami bersama pesan verbal dan konteks hubungan. Dengan demikian, komunikasi nonverbal sebaiknya menjadi pintu untuk memahami orang lain, bukan dasar untuk langsung menghakimi mereka.
Komunikasi Bukan Sekadar Mendengar, tetapi Juga Memahami
Melalui Past Lives, kita dapat melihat bahwa komunikasi interpersonal tidak selalu berjalan secara langsung dan jelas. Manusia membawa pengalaman, harapan, kenangan, dan interpretasi masing-masing ke dalam setiap interaksi. Akibatnya, dua orang yang berada dalam situasi yang sama belum tentu memahami peristiwa tersebut dengan cara yang sama.
Fenomena ini menjadi semakin relevan dalam komunikasi digital. Ketika percakapan hanya berlangsung melalui teks, banyak petunjuk nonverbal yang biasanya membantu kita memahami pesan menjadi tidak tersedia. Kita tidak dapat melihat ekspresi wajah, mendengar intonasi, atau mengetahui alasan seseorang membutuhkan waktu lama untuk membalas pesan.
Kondisi tersebut membuat keterampilan komunikasi semakin penting. Kita perlu belajar menyampaikan maksud secara jelas, mendengarkan secara aktif, memperhatikan konteks, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menjelaskan perasaannya. Ketika terjadi kesalahpahaman, bertanya dengan terbuka sering kali lebih membantu daripada membangun kesimpulan berdasarkan asumsi.
Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan berarti kita harus selalu mampu memahami setiap perasaan orang lain. Komunikasi yang baik justru dimulai ketika kita menyadari bahwa perspektif kita terbatas dan bersedia mendengarkan perspektif orang lain.

Menemukan Makna di Balik Hal-Hal Sederhana
Past Lives mengingatkan kita bahwa hubungan antarmanusia sering kali dibentuk oleh hal-hal yang tampak sederhana: sebuah tatapan, percakapan singkat, jeda sebelum menjawab, atau keheningan yang berlangsung sedikit lebih lama dari biasanya. Hal-hal tersebut dapat membawa makna yang berbeda, bergantung pada pengalaman dan hubungan antara orang-orang yang terlibat.
Film ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua perasaan membutuhkan penjelasan yang tuntas. Ada hubungan yang meninggalkan pertanyaan, kenangan yang terus bertahan, dan emosi yang baru dapat dipahami setelah waktu berlalu. Semua itu menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan proses manusia berusaha memahami dirinya sendiri dan orang lain.
Bagi mereka yang tertarik mempelajari komunikasi, film seperti Past Lives dapat menjadi bahan refleksi sekaligus objek analisis yang kaya. Melalui perspektif komunikasi, kita dapat melihat bagaimana bahasa tubuh, ekspresi, keheningan, dan konteks sosial membentuk makna dalam hubungan antarmanusia.
Tertarik melihat fenomena sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda? Yuk, eksplorasi dunia Komunikasi BINUS University! Pelajari bagaimana manusia membangun makna, bagaimana media memengaruhi cara kita memahami dunia, dan bagaimana keterampilan komunikasi dapat dikembangkan untuk menghadapi berbagai tantangan di era digital. Sebab, memahami komunikasi bukan hanya tentang menemukan kata-kata yang tepat, tetapi juga tentang belajar memahami manusia di baliknya.
Comments :