Di tengah pergaulan modern, penampilan, gaya hidup, dan validasi sosial sering kali memengaruhi cara seseorang dipandang oleh orang lain. Media sosial turut memperkuat fenomena ini melalui budaya personal branding, ketika seseorang berusaha menampilkan versi terbaik dirinya agar memperoleh pengakuan dan diterima dalam lingkungan sosial. Mulai dari pakaian yang dikenakan, tempat yang dikunjungi, hingga barang-barang yang dimiliki, berbagai aspek kehidupan dapat menjadi simbol status dan identitas. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa perlu mempertahankan citra tertentu demi memenuhi ekspektasi lingkungan, meskipun citra tersebut belum tentu mencerminkan dirinya yang sebenarnya.

Fenomena ini tergambar dalam film American Psycho (2000), yang disutradarai oleh Mary Harron dan diadaptasi dari novel karya Bret Easton Ellis. Film ini mengikuti kehidupan Patrick Bateman, seorang eksekutif muda yang hidup di tengah lingkungan elite New York pada akhir 1980-an. Bateman digambarkan sebagai sosok yang sukses secara finansial, berpenampilan menarik, memiliki rutinitas perawatan diri yang teratur, serta sangat memperhatikan merek pakaian dan barang-barang mewah. Di hadapan orang lain, ia tampak sebagai representasi pria sukses dengan kehidupan yang ideal. Namun, di balik citra tersebut, tersimpan sisi gelap yang memperlihatkan kompleksitas identitas, obsesi terhadap status sosial, dan kebutuhan akan pengakuan.

 

Ketika Kehidupan Menjadi Sebuah Pertunjukan

Kisah Patrick Bateman dapat dianalisis menggunakan teori dramaturgi yang diperkenalkan oleh sosiolog Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Teori ini mengibaratkan kehidupan sosial sebagai sebuah pertunjukan teater, ketika individu berperan sebagai aktor yang berusaha mengelola kesan di hadapan audiensnya. Dalam interaksi sehari-hari, seseorang tidak selalu menunjukkan seluruh sisi dirinya, melainkan memilih perilaku, penampilan, dan informasi tertentu untuk membangun kesan yang ingin ditampilkan.

Melalui perspektif dramaturgi, perilaku Patrick Bateman dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan peran sosial yang sesuai dengan standar lingkungan tempatnya berada. Ia tidak hanya berusaha terlihat sukses, tetapi juga memastikan bahwa penampilannya sesuai dengan ekspektasi kelompok sosial yang mengelilinginya. Kehidupan menjadi ruang untuk menampilkan status, kekuasaan, dan superioritas melalui berbagai simbol yang dapat dikenali oleh orang lain.

 

1. Front Stage: Persona Pria Sukses dan Berkelas

Konsep front stage merujuk pada ruang ketika individu menampilkan dirinya di hadapan audiens dan berusaha mempertahankan kesan tertentu. Dalam American Psycho, Patrick Bateman memperlihatkan sisi ini melalui penampilan yang selalu terjaga, pakaian bermerek, rutinitas kebugaran, serta gaya hidup mewah yang menjadi bagian dari identitas publiknya.

Penampilan tersebut bukan sekadar persoalan estetika. Dalam lingkungan sosial yang kompetitif, pakaian, aksesori, restoran pilihan, dan barang-barang mewah dapat berfungsi sebagai simbol status yang menunjukkan posisi seseorang dalam hierarki sosial. Bateman seolah memahami bahwa untuk memperoleh pengakuan dari lingkungannya, ia harus mampu menampilkan atribut yang dianggap merepresentasikan kesuksesan.

Menariknya, lingkungan Bateman juga memperlihatkan bagaimana identitas sosial dapat menjadi sangat bergantung pada simbol-simbol eksternal. Para karakter dalam film kerap terjebak dalam persaingan status, bahkan ketika perbedaan identitas dan posisi sosial mereka sulit dikenali. Hal ini memperlihatkan bahwa citra yang dibangun seseorang tidak selalu menghasilkan pengenalan personal yang mendalam. Seseorang dapat terlihat sempurna di mata publik, tetapi tetap tidak benar-benar dikenal oleh orang-orang di sekitarnya.

Source: The American Society of Cinematographers (ASC)

 

2. Back Stage: Sisi Tersembunyi di Balik Citra Publik

Berbeda dengan front stage, konsep back stage menggambarkan ruang ketika individu dapat melepaskan tuntutan pertunjukan sosial atau memperlihatkan aspek dirinya yang tidak ditampilkan kepada audiens tertentu.

Dalam film ini, sisi tersembunyi Patrick Bateman memperlihatkan kontras yang tajam dengan persona publiknya. Di balik penampilan yang teratur dan kehidupan yang tampak ideal, terdapat perilaku kekerasan, obsesi, serta pergulatan psikologis yang menjadi bagian penting dari narasi film. Kontras tersebut membuat penonton mempertanyakan sejauh mana penampilan luar dapat dipercaya sebagai representasi utuh seseorang.

Meski demikian, back stage tidak selalu berarti bahwa seseorang sedang menunjukkan dirinya yang paling autentik. Dalam teori Goffman, ruang belakang merupakan area yang relatif terpisah dari pertunjukan tertentu, bukan jaminan bahwa seluruh perilaku di dalamnya mencerminkan identitas sejati. Pada karakter Bateman, ruang privat justru mengungkap sisi yang bertentangan dengan persona sosial yang ia pertahankan.

Perspektif ini relevan untuk memahami kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin terlihat bahagia, percaya diri, dan sukses di media sosial, tetapi pengalaman pribadinya bisa jauh lebih kompleks daripada apa yang ditampilkan. Karena itu, penampilan publik tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menilai kondisi, karakter, maupun kehidupan seseorang.

Source: County Theater

3. Impression Management: Upaya Mengendalikan Persepsi Orang Lain

Konsep impression management menjelaskan bagaimana individu mengatur perilaku, penampilan, dan informasi untuk memengaruhi kesan yang terbentuk pada orang lain. Dalam kehidupan Patrick Bateman, pengelolaan kesan terlihat melalui perhatiannya terhadap penampilan fisik, pakaian, rutinitas perawatan diri, dan simbol-simbol kemewahan.

Bateman berusaha menjaga citra yang selaras dengan standar kesuksesan di lingkungannya. Ia memperhatikan detail yang dapat memengaruhi bagaimana orang lain menilainya, seolah setiap aspek penampilan merupakan bagian dari strategi komunikasi nonverbal. Bahkan, simbol status menjadi penting bukan hanya karena nilai materialnya, tetapi juga karena makna sosial yang melekat padanya.

Dalam konteks komunikasi kontemporer, strategi serupa dapat ditemukan dalam personal branding di media sosial. Individu memilih foto, menyusun narasi tentang pencapaian, menentukan gaya visual, dan menampilkan aktivitas tertentu untuk membentuk persepsi audiens. Proses tersebut tidak selalu negatif. Pengelolaan kesan dapat menjadi bagian wajar dari komunikasi profesional dan ekspresi diri. Namun, persoalan muncul ketika penerimaan sosial menjadi satu-satunya tolok ukur nilai diri, sehingga individu merasa harus terus mempertahankan citra yang sulit dipenuhi.

Relevansi American Psycho dengan Budaya Validasi Sosial

Meskipun berlatar lingkungan bisnis elite New York pada akhir 1980-an, persoalan yang diangkat American Psycho masih relevan dengan budaya digital saat ini. Media sosial memberikan ruang yang luas bagi individu untuk mengkurasi identitas dan menampilkan kehidupan melalui representasi visual. Foto liburan, pencapaian karier, barang bermerek, hingga gaya hidup tertentu dapat membentuk gambaran mengenai siapa seseorang dan bagaimana ia ingin dipersepsikan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa komunikasi tidak hanya berlangsung melalui pesan verbal, tetapi juga melalui simbol, gestur, penampilan, dan pilihan representasi diri. Audiens kemudian menafsirkan berbagai tanda tersebut berdasarkan pengalaman, nilai, dan standar sosial yang mereka miliki.

Dalam situasi tertentu, kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dapat mendorong seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Ketika standar kesuksesan dibentuk oleh penampilan dan simbol material, individu berisiko menilai dirinya berdasarkan ukuran eksternal. Akibatnya, batas antara mengekspresikan diri dan memenuhi ekspektasi sosial menjadi semakin kabur.

Namun, penting untuk tidak menyamakan perilaku membangun citra di media sosial dengan karakter Patrick Bateman secara langsung. Film ini merupakan karya fiksi dengan penggambaran ekstrem yang digunakan untuk mengeksplorasi tema konsumerisme, identitas, dan kekerasan. Relevansinya terletak pada pertanyaan kritis yang diajukan mengenai hubungan antara citra publik, status sosial, dan identitas, bukan pada anggapan bahwa setiap orang yang mengelola penampilannya menyimpan sisi gelap serupa.

Source: Theasc.com

Komunikasi, Identitas, dan Cara Kita Memahami Orang Lain

Melalui teori dramaturgi Erving Goffman, American Psycho mengajak kita memahami bahwa identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi yang melibatkan penampilan, peran, simbol, dan persepsi audiens. Patrick Bateman menjadi gambaran ekstrem tentang bagaimana seseorang dapat begitu terikat pada citra yang ditampilkan, sementara kehidupan di baliknya jauh lebih kompleks.

Film ini juga mengingatkan bahwa komunikasi bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan. Komunikasi merupakan proses pembentukan makna, negosiasi identitas, dan pengelolaan hubungan sosial. Apa yang kita tampilkan kepada orang lain dapat memengaruhi cara mereka memahami diri kita, tetapi persepsi tersebut tidak selalu menggambarkan keseluruhan realitas.

Memahami dinamika ini menjadi penting di era ketika identitas semakin sering dipertukarkan melalui platform digital. Kemampuan membaca pesan verbal dan nonverbal, memahami konstruksi citra, menganalisis representasi media, serta mengkritisi pengaruh lingkungan sosial merupakan bagian dari kompetensi komunikasi yang relevan bagi generasi masa kini.

Pelajari Lebih Dalam Dunia Komunikasi Bersama BINUS University

Tertarik memahami bagaimana media membentuk persepsi, bagaimana identitas dikonstruksi melalui komunikasi, dan bagaimana perilaku manusia dapat dianalisis melalui film serta fenomena sosial? Dunia komunikasi menawarkan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pertanyaan tersebut secara kritis dan kreatif.

Melalui bidang Communication di BINUS University, mahasiswa dapat mempelajari dinamika media, perilaku audiens, komunikasi digital, produksi konten, serta strategi komunikasi yang relevan dengan perkembangan industri. Pembelajaran komunikasi tidak hanya membantu mahasiswa memahami cara pesan diproduksi dan disampaikan, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menganalisis makna, membaca tren, memahami audiens, dan menciptakan karya yang memiliki nilai bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, memahami komunikasi berarti memahami bagaimana manusia membangun hubungan, menampilkan identitas, dan menciptakan makna di tengah dunia yang terus berubah.

Yuk, eksplorasi dunia komunikasi dan kembangkan potensimu bersama Communication di BINUS University! Temukan bagaimana kreativitas, pemikiran kritis, dan pemahaman terhadap media dapat menjadi bekal untuk berkontribusi di industri komunikasi masa depan.