Mengapa Storytelling Penting dalam Digital Content?
Pernah nggak kamu nonton video yang awalnya cuma mau lihat sebentar, tapi tiba-tiba udah selesai sampai akhir? Atau pernah lihat iklan sebuah brand yang awalnya terasa seperti cerita biasa, tapi ternyata di akhir baru sadar kalau itu sebenarnya iklan? Nah, salah satu alasan konten seperti itu bisa bikin kita betah nonton adalah storytelling.
Di dunia digital, storytelling bukan cuma digunakan untuk film atau novel. Sekarang, storytelling juga menjadi bagian penting dalam membuat konten di TikTok, Instagram, YouTube, bahkan dalam komunikasi sebuah brand.
Storytelling Itu Apa Sih?
Simpelnya, storytelling adalah cara menyampaikan pesan melalui sebuah cerita. Daripada langsung mengatakan: “Produk kami bagus dan berkualitas.” Sebuah brand bisa menyampaikan pesan melalui cerita tentang seseorang yang punya masalah, kemudian menemukan solusi melalui produk tersebut. Hasilnya, pesan yang disampaikan terasa lebih natural dan nggak seperti sedang “jualan”.
Itulah kenapa storytelling banyak digunakan dalam digital content. Karena orang biasanya lebih mudah tertarik dengan cerita daripada sekadar informasi. Kenapa Storytelling Penting? Di media sosial, konten baru muncul setiap detik. Kamu scroll TikTok, ada video. Scroll lagi, ada video lain. Buka Instagram, ada Reels. Buka YouTube, ada Shorts. Persaingan untuk mendapatkan perhatian audiens semakin besar. Kalau konten cuma berisi informasi tanpa cara penyampaian yang menarik, audiens bisa saja langsung scroll. Storytelling membantu membuat konten terasa lebih relate, menarik, dan punya alasan untuk ditonton sampai selesai.
- Bikin Audiens Lebih Relate
Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari biasanya lebih gampang menarik perhatian. Misalnya sebuah brand kopi ingin mempromosikan produknya. Daripada mengatakan: “Kopi kami memiliki rasa yang nikmat dan cocok diminum kapan saja.” Mereka bisa membuat cerita: “Jam 8 pagi udah ngantuk. Jam 10 meeting. Jam 12 masih ngantuk. Akhirnya gue sadar… masalahnya bukan kurang tidur, tapi kurang kopi.” Lebih relate, kan? Audiens bisa merasa, “Anjir, gue banget.” Ketika audiens merasa relate, kemungkinan mereka untuk memperhatikan konten juga bisa meningkat.
- Storytelling Bisa Membangun Emotional Connection
Cerita juga bisa membuat audiens merasakan sesuatu. Bisa tertawa, sedih, penasaran, terharu, atau bahkan merasa terinspirasi. Inilah yang disebut emotional connection. Contohnya, sebuah brand sepatu nggak harus selalu menunjukkan produknya dalam bentuk foto katalog. Mereka bisa membuat cerita tentang seseorang yang dari kecil punya impian menjadi atlet, mengalami kegagalan, terus berlatih, sampai akhirnya berhasil. Sepatunya mungkin hanya muncul beberapa kali. Tapi yang diingat audiens justru ceritanya. Ketika sebuah brand berhasil membangun hubungan emosional dengan audiens, brand tersebut bisa terasa lebih dekat dan manusiawi.
- Bikin Konten Punya Alur
Storytelling juga membantu konten punya struktur. Salah satu struktur sederhana yang bisa digunakan adalah: Hook → Masalah → Perjalanan → Solusi → Ending
Hook
Bagian pertama yang bertujuan membuat orang berhenti scrolling.
Contohnya: “Gue hampir berhenti kuliah gara-gara satu hal ini.” atau: “Ternyata selama ini gue salah pilih kamera.”
Tujuannya sederhana:
Bikin orang penasaran.
Masalah:
Setelah audiens tertarik, kasih tahu masalah yang dialami.
Misalnya:
“Setiap bikin video, hasilnya selalu blur dan gue nggak tahu kenapa.”
Perjalanan
Ceritakan apa yang terjadi setelah masalah tersebut.
“Gue coba ganti setting, nonton tutorial, bahkan sampai beli tripod baru.”
Solusi
Kemudian masuk ke solusi.
“Ternyata masalahnya cuma satu: setting kamera gue salah.”
Ending
Terakhir, berikan kesimpulan atau hasil.
“Sejak itu, video gue jadi jauh lebih jelas tanpa harus beli kamera baru.”
Struktur seperti ini bisa membuat konten terasa seperti cerita, bukan sekadar kumpulan informasi.
Storytelling di TikTok
Di TikTok, kamu nggak punya banyak waktu untuk membuat audiens tertarik. Orang bisa langsung swipe kalau beberapa detik pertama terasa membosankan. Karena itu, hook sangat penting.
Contohnya:
“Gue baru sadar kalau selama ini gue salah bikin CV.”
Daripada:
“Halo guys, hari ini gue mau kasih tips membuat CV.”
Keduanya punya topik yang sama, tetapi kalimat pertama memberikan rasa penasaran. Storytelling TikTok biasanya bisa dibuat singkat, cepat, dan langsung ke inti.
Tipsnya:
- Mulai dengan hook.
- Jangan terlalu banyak basa-basi.
- Gunakan bahasa yang natural.
- Buat konflik atau masalah.
- Kasih payoff di akhir.
Storytelling di Instagram Di Instagram, storytelling bisa digunakan dalam berbagai format. Mulai dari Reels, carousel, caption, sampai Instagram Stories. Misalnya kamu membuat carousel tentang:
“5 Kesalahan Saat Pertama Kali Bikin Konten.”
Daripada slide pertama langsung berisi daftar kesalahan, kamu bisa mulai dengan:
“Dulu gue kira bikin konten itu tinggal rekam → edit → upload. Ternyata… salah besar.”
Slide berikutnya baru masuk ke cerita dan kesalahan yang pernah dilakukan. Dengan begitu, informasi terasa lebih seperti cerita daripada materi yang sedang dijelaskan.
Storytelling di YouTube
YouTube biasanya memberikan ruang yang lebih panjang untuk bercerita. Karena itu, storytelling bisa dibuat lebih detail. Misalnya seorang creator membuat video:
“30 Hari Mencoba Jadi Content Creator.”
Videonya bisa memiliki alur:
Hari pertama → mulai dari nol → mengalami masalah → hampir menyerah → menemukan strategi → melihat perkembangan → hasil akhir.
Penonton akhirnya nggak cuma melihat hasilnya. Mereka ikut menjalani perjalanan bersama creator tersebut. Itulah salah satu kekuatan storytelling di YouTube.
Storytelling dalam Brand Communication
Nah, storytelling nggak cuma digunakan oleh content creator. Brand juga menggunakannya untuk membangun hubungan dengan audiens. Misalnya ada brand skincare baru. Mereka bisa saja membuat iklan:
“Produk X mengandung vitamin C yang membantu mencerahkan kulit.”
Informasinya jelas, tapi terasa seperti iklan biasa. Atau brand tersebut bisa membuat cerita:
“Dulu dia selalu menghindari kamera karena nggak percaya diri dengan kondisi kulitnya. Sampai akhirnya dia mulai belajar merawat kulit sedikit demi sedikit.”
Produk kemudian masuk sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Pesannya tetap sama: produk membantu merawat kulit. Tapi penyampaiannya terasa lebih personal dan emosional.
Storytelling Bukan Berarti Harus Drama
Ini yang sering salah dipahami. Storytelling nggak harus selalu sedih, dramatis, atau bikin nangis. Cerita lucu juga storytelling. Cerita pengalaman pribadi juga storytelling. Tutorial juga bisa menggunakan storytelling. Review produk juga bisa dibuat dengan storytelling. Bahkan konten edukasi bisa menggunakan storytelling.
Contohnya daripada mengatakan:
“Ada tiga kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa saat presentasi.”
Kamu bisa membuka dengan:
“Gue pernah presentasi di depan kelas dan dalam 30 detik pertama langsung lupa semua yang mau gue omongin.”
Kemudian baru masuk ke tiga kesalahan yang sering terjadi. Informasinya tetap sama, tetapi audiens mendapatkan cerita sebagai pintu masuknya.
Jadi, Apa Intinya?
Di dunia digital, membuat konten bukan cuma tentang seberapa bagus kameranya atau seberapa keren editannya.
Cara menyampaikan pesan juga sangat penting.
Storytelling membantu membuat konten lebih menarik, relatable, dan mudah diingat. Dengan storytelling, sebuah informasi bisa berubah menjadi pengalaman yang terasa lebih dekat dengan audiens.
Makanya, kalau kamu ingin belajar membuat digital content, jangan cuma belajar editing.
Coba juga belajar:
“Gimana caranya bikin orang penasaran?”
“Gimana caranya bikin orang merasa relate?”
“Gimana caranya bikin orang mau nonton sampai selesai?”
Karena pada akhirnya, orang mungkin lupa dengan apa yang kamu katakan.
Tapi kalau ceritanya kena?
Bisa jadi mereka ingat jauh lebih lama.
Sumber
- Content creator & storytelling: Pertiwi & Sanusi — Storytelling in the Digital Age
- Emotional connection: The Impact of Storytelling in Creating Firm and Customer Connections
- Brand communication & engagement: Dessart & Pitardi — How Stories Generate Consumer Engagement
- Gen Z: The Effect of Digital Storytelling on Customer Engagement and Brand Awareness Among Generation Z
Comments :