Sumber: @ketnipz

Fear of Missing Out (FOMO) menjadi fenomena yang cukup lekat dengan kehidupan mahasiswa, terutama di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Rasa cemas karena takut tertinggal tren, informasi, atau momen sosial tertentu ini ternyata memiliki dampak yang signifikan terhadap cara mahasiswa berkomunikasi, baik dengan teman sebaya maupun di ruang publik digital.

Salah satu dampaknya terlihat dari kecenderungan mahasiswa untuk terus memantau media sosial demi tidak ketinggalan informasi, yang kemudian memengaruhi gaya komunikasi mereka menjadi lebih cepat, singkat, dan reaktif. Fenomena ini juga mendorong penggunaan bahasa gaul, singkatan, atau referensi tren tertentu sebagai bentuk validasi sosial agar tetap dianggap “relate” dengan lingkungan pergaulan.

FOMO turut memengaruhi pola komunikasi dalam pertemanan, di mana mahasiswa merasa perlu terus terhubung dan merespons cepat agar tidak dianggap tertinggal atau dikucilkan dari circle pertemanan. Hal ini kadang menimbulkan tekanan sosial tersendiri, terutama saat harus terus mengikuti aktivitas atau obrolan yang sedang tren di kalangan teman-temannya.

Untuk mengelola dampak FOMO secara sehat, mahasiswa perlu membangun kesadaran akan pentingnya komunikasi yang bermakna, bukan sekadar mengikuti arus. Membatasi waktu bermedia sosial dan memprioritaskan kualitas interaksi dibanding kuantitas menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga keseimbangan komunikasi di era digital ini.