Film bergenre romantic comedy (romcom) menjadi salah satu tontonan favorit di kalangan mahasiswa, terutama karena ceritanya yang ringan dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Namun di balik unsur hiburannya, romcom ternyata turut memengaruhi cara penontonnya berkomunikasi, khususnya dalam konteks hubungan personal dan romantis.

Salah satu pengaruh yang paling terlihat adalah munculnya ekspektasi komunikasi yang “ideal” ala film. Banyak mahasiswa yang secara tidak sadar menyerap pola komunikasi dari karakter romcom, seperti gombalan, grand gesture, atau cara menyampaikan perasaan secara dramatis. Ekspektasi ini terkadang tidak sejalan dengan realita komunikasi interpersonal yang lebih kompleks dan membutuhkan usaha dua arah.

Sumber: magnific.com

Di sisi positif, romcom juga bisa menjadi media pembelajaran komunikasi secara tidak langsung. Penonton dapat belajar mengenali gaya komunikasi asertif, cara menyampaikan penolakan dengan sopan, atau pentingnya komunikasi terbuka dalam menyelesaikan konflik, meskipun dikemas dalam bungkus cerita fiksi.

Meski begitu, penting bagi mahasiswa untuk tetap kritis dalam menonton. Tidak semua pola komunikasi dalam romcom realistis untuk diterapkan, bahkan beberapa di antaranya justru menormalisasi perilaku yang kurang sehat, seperti posesif atau mengabaikan batasan personal. Dengan literasi media yang baik, mahasiswa dapat mengambil sisi positif dari romcom sebagai bahan refleksi komunikasi, tanpa menjadikannya standar mutlak dalam hubungan nyata.