Ghosting dan Budaya Menghindar dari Konflik dalam Komunikasi Digital
Ghosting menjadi salah satu fenomena komunikasi yang cukup akrab di kalangan mahasiswa, khususnya dalam konteks pertemanan maupun hubungan romantis. Istilah ini merujuk pada tindakan mengakhiri komunikasi secara sepihak tanpa penjelasan, di mana salah satu pihak tiba-tiba menghilang dan berhenti merespons tanpa alasan yang jelas.

Sumber: Gemini AI
Fenomena ini erat kaitannya dengan karakteristik komunikasi digital yang minim konfrontasi langsung. Melalui pesan teks atau media sosial, seseorang dapat lebih mudah menghindari komunikasi yang dianggap tidak nyaman, seperti menyampaikan penolakan atau mengakhiri hubungan, dibandingkan harus melakukannya secara tatap muka.
Dari perspektif komunikasi interpersonal, ghosting dapat dipahami sebagai bentuk penghindaran konflik yang sebenarnya kurang sehat. Alih-alih menyelesaikan masalah melalui komunikasi terbuka, pelaku ghosting memilih untuk memutus interaksi secara total, yang justru dapat menimbulkan kebingungan dan dampak emosional bagi pihak yang ditinggalkan.
Meningkatnya penggunaan aplikasi chatting dan dating apps di kalangan mahasiswa turut memperbesar peluang terjadinya ghosting, karena interaksi yang terjalin cenderung bersifat instan dan minim komitmen. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk membangun kesadaran akan pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka, sekalipun dalam situasi yang tidak nyaman, guna menghindari dampak negatif dari komunikasi yang terputus secara tiba-tiba.
Comments :