Bagi Gen Z, teknologi bukan lagi sekadar alat untuk membantu pekerjaan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu yang semakin populer adalah Artificial Intelligence (AI), terutama ChatGPT. Kini, banyak anak muda menggunakannya bukan hanya untuk mencari informasi atau mengerjakan tugas, tetapi juga untuk bercerita, meminta saran, mencari ide, hingga sekadar mencari teman bicara saat bosan.

Generated image : ChatGPT

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dalam pola komunikasi Gen Z. ChatGPT mampu memberikan respons dengan cepat dan membuat pengguna merasa didengarkan tanpa takut dihakimi. Karena itu, sebagian Gen Z merasa lebih nyaman mengungkapkan pikiran atau masalah kepada AI. Selain praktis, AI juga dapat diakses kapan saja tanpa harus menunggu respons orang lain.

Dalam kehidupan akademik dan pekerjaan, ChatGPT juga banyak digunakan untuk mencari ide, belajar, membuat tulisan, hingga mempersiapkan wawancara kerja. Kemudahan ini membuat AI semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari dan menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi generasi muda.

Meski begitu, komunikasi dengan AI tetap memiliki batas. ChatGPT tidak memiliki pengalaman, emosi, maupun hubungan sosial seperti manusia. Karena itu, AI sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti interaksi dan hubungan emosional antarmanusia.

Pada akhirnya, ChatGPT menunjukkan bahwa cara Gen Z berkomunikasi terus berkembang mengikuti teknologi. Jadi, apakah ChatGPT bisa menjadi “new bestie”? Mungkin bukan sahabat dalam arti sebenarnya, tetapi AI sudah menjadi bagian baru dari cara Gen Z berkomunikasi.