Main Character Syndrome di Media Sosial: Cara Gen Z Membangun Personal Branding
Di zaman modern ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anda bangun, membuka TikTok, scrolling Instagram sebelum tidur, dan bahkan saat sedang mengerjakan sesuatu pun, Anda masih membuka media sosial. Dunia digital bukan hanya sumber hiburan bagi Gen Z, tetapi juga tempat di mana mereka dapat membentuk citra mereka dan memberi tahu orang lain siapa mereka. Ini telah menjadi sebuah fenomena yang dijuluki main character syndrome, ketika seseorang mulai merasa seperti “tokoh utama” dalam hidupnya. Sebenarnya istilah ini sering dipakai bercanda di TikTok atau Twitter, tapi kalau dipikir-pikir, banyak orang yang tanpa sadar menjalani hal itu di dunia online.

Sumber: RRI.com
Mulai dari bikin vlog sehari-hari, “A Day in My Life”, Get Ready With Me (GRWM), hingga mengunggah pembaruan kehidupan dengan estetika yang sangat mencolok. Semua itu secara tidak langsung berkontribusi pada personal branding. Fenomena ini sangat menarik untuk dibahas, karena kini strategi komunikasi tidak hanya dimiliki oleh perusahaan atau merek besar, tetapi juga digunakan oleh individu dalam hal ini untuk membangun citra mereka sendiri. Banyak individu saat ini telah memahami bahwa persona publik mereka di media sosial berperan dalam cara orang lain memandang mereka. Menariknya, media sosial dapat menciptakan “kesan pertama” sebelum orang mengetahui siapa mereka sebenarnya. Sekarang, pengguna internet mulai dengan sengaja mengembangkan keberadaan mereka di media sosial.
Namun bukan hanya melalui prestasi atau organisasi, melainkan juga melalui cara mereka berpenampilan, lifestyle, cara berbicara, sampai tampilan feed Instagram mereka. Banyak orang berusaha untuk menjadi yang paling aesthetic, paling menarik, paling produktif, paling enak dipandang, bahkan terlihat sempurna di internet. Semua hal kini seakan dijadikan bagian dari pembentukan citra mulai dari busana, tempat nongkrong, circle pertemanan, hingga cara menulis caption.
Situasi ini juga cukup sering terlihat di lingkungan sekitar. Di platform digital, banyak orang tampak menjalani kehidupan yang sempurna, mulai dari terlihat sibuk, hingga selalu terlihat baik-baik saja. Namun, kehidupan seseorang di dunia nyata tentu tidak selalu seindah yang ditampilkan di internet. Tren media sosial saat ini juga berbeda dari beberapa tahun lalu, terutama ketika Instagram berada pada masa puncaknya.
Dulu, Anda lebih bebas di media sosial. Tampilan (feed) Instagram mungkin tidak terlalu bersih (tentu saja, unggahan sering kali tidak teratur) dan orang-orang menampilkan diri mereka dengan lebih jujur. Memang masih ada beberapa standar yang harus diikuti, tetapi media sosial pada waktu itu tampak jauh lebih bebas dan tidak terstruktur. Tapi sejak beberapa bentuk aesthetic seperti, “productive lifestyle”, “slow living” atau apa pun standar gaya hidup digital yang melanda kota, orang-orang jadi jauh lebih selektif dalam menggunakan media sosial. Atau mereka mulai memikirkan bagaimana seharusnya tampilan feed mereka, hal-hal yang terlihat perfect di galeri foto dianggap layak untuk diunggah, serta jenis caption apa yang terlihat keren dan estetik, sekaligus tujuan seperti terlihat good looking di mata orang lain.
Bahkan tanpa disadari banyak orang akhirnya merasa harus menciptakan citra yang terlihat selalu sempurna di media sosial. Hal ini mulai membuat media sosial terasa semakin palsu. Kita bisa melihat bagaimana banyak orang berusaha terlalu keras untuk terlihat keren di internet, meskipun terkadang itu hanya karena mereka memang ingin diterima atau diperhatikan. Pada akhirnya, banyak orang justru lebih fokus membangun citra dibanding menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Salah satu contohnya adalah cara orang berperilaku saat membangun hubungan di media sosial. Banyak dari mereka bukan mencari teman, melainkan mencari pengakuan atau berusaha terlihat sebagai bagian dari suatu kelompok. Misalnya, seseorang mencoba berteman dengan seorang influencer atau orang populer agar mereka juga bisa diperhatikan.
Jujur saja, sekarang seperti ada semacam ekspektasi bahwa kita merasa harus terlihat sibuk sekaligus produktif di internet. Saat Anda mengunjungi media sosial, itu menampilkan orang-orang yang magang di perusahaan-perusahaan besar, menghadiri acara-acara sesekali, menjalankan bisnis sampingan, atau menampilkan kehidupan ideal mereka. Perlahan-lahan, di balik layar mulai tumbuh ketakutan akan tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Agar tetap dipandang “up-to-date”, pada akhirnya sebagian orang menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan selain terus rutin memposting pembaruan tentang aktivitas mereka. Kebiasaan terus mengikuti kehidupan orang lain di internet perlahan membuat banyak orang mulai lebih memperhatikan bagaimana diri mereka tampil di platform digital.
Tidak sedikit yang akhirnya membentuk persona tertentu agar terlihat lebih estetik, mengikuti tren, atau sesuai dengan standar yang sedang ramai di kalangan Gen Z. Pada akhirnya, platform digital bukan lagi sekadar tempat untuk berbagi aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan versi diri yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Main character syndrome tidak selalu buruk. Banyak individu menjadi lebih percaya diri dan kreatif. Mereka menyadari betapa pentingnya personal branding di era digital saat ini. Di sisi lain, media sosial juga bisa berbahaya karena dapat membuat seseorang terlalu terpaku untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Sebagian orang menjadi sangat asyik menciptakan sosok ideal untuk internet sehingga kadang-kadang mereka lupa untuk menjalani kehidupan nyata. Dari sudut komunikasi pemasaran, personal branding memang penting di era digital saat ini.
Namun, media sosial seharusnya tetap menjadi tempat untuk mengekspresikan diri secara jujur, bukan tempat untuk memaksakan citra yang tidak benar-benar mencerminkan diri sendiri. Tidak semua hal harus dijadikan konten atau dipublikasikan demi terlihat menarik di internet. Pada akhirnya, fenomena ini mengungkap keberadaan media sosial yang tak terbantahkan dalam kehidupan Gen Z. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai sarana komunikasi, pengelolaan identitas, dan pengelolaan persepsi. Singkatnya, baik Anda menyukainya maupun membencinya, pola ini menjadi salah satu tren yang menarik, karena kita melihat bagaimana komunikasi digital berubah tepat di depan mata kita dan memengaruhi cara banyak orang menjalani kehidupan sehari-hari mereka.
Daftar Pustaka
- Arganata, Z., & Hamka, M. Y. (2025). Pengaruh media sosial terhadap pola komunikasi Generasi Z dalam interaksi sosial. Jurnal Dinamika Sosial dan Sains.
- https://jurnalsentral.com/index.php/jdss/article/view/114 Persepsi Gen Z terhadap penggunaan social media. (2025).
- https://ukitoraja.id/index.php/jumek/article/download/529/617/2338 Pengaruh media sosial, fear of missing out (FOMO), dan pendapatan terhadap perilaku belanja Gen Z. (2026). Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi. https://dinastirev.org/JEMSI/article/view/7392
Comments :