Lessons Beyond Campus Walls: Pengalaman Study Abroad di Australia
“People tend to develop the most in environments that push them out of their comfort zones”
Quote ini sangat membekas di benakku, terutama saat kehidupan perkuliahan mulai terasa terlalu nyaman. Perasaan inilah yang akhirnya mendorongku untuk mengambil program Study Abroad, sebuah keputusan yang ternyata memberi arah baru dalam hidupku.
The Turning Point
Sejak awal perkuliahan, aku selalu ingin berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga di luar kelas. Memasuki Enrichment Program di semester 6 dan 7, aku merasa menjalani magang selama dua semester akan terasa monoton. Dari situ, aku mulai mencari alternatif dan akhirnya menemukan program Study Abroad melalui website Binus International Office, lalu melanjutkannya dengan konsultasi langsung.
Meski proses seleksinya terdengar kompetitif, aku merasa kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Prinsipku sederhana: jika aku tidak dapat, setidaknya aku sudah coba. Ternyata, seluruh prosesnya cukup reasonable dan memang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi pengalaman studi di luar negeri.
Pengalaman ini merupakan paket lengkap. Bisa belajar, bekerja, hingga traveling sekaligus. Berikut beberapa foto pengalaman baruku di Sydney.

Bersama fellow Binusian dengan icon Sydney. Bertemu kanguru & koala!
Aku juga pernah travel ke Melbourne, Gold Coast, Brisbane, dan visit ke banyak pantai dan gunung bersama teman-teman setelah UAS selesai. Selama visa masih berlaku, kenapa tidak sekalian eksplor Australia?

Foto ini adalah saat traveling ke beberapa kota di Queensland bersama teman dari India dan bermain beach volley di Manly Beach dengan beberapa teman baru dari berbagai negara Eropa.
Lessons Beyond Campus Walls
Menurut orang sekitarku, study abroad itu sama saja, hanya beda tempat. Namun bagiku, pengalaman ini jauh lebih dari itu. Bertemu dengan orang-orang dari latar belakang beragam, beradaptasi dengan sistem dan teknik mengajar dosen di Sydney, hingga menghadapi ekspektasi kerja part-time yang berbeda, semuanya menjadi bentuk enrichment yang sangat aku butuhkan.
Fun fact! Dengan Student Visa di Australia, mahasiswa diperbolehkan bekerja hingga 48 jam/2 minggu. Aku sangat merekomendasikan pekerjaan di bidang hospitality karena selain melatih interaksi dengan warga lokal, Australia juga cukup terbuka bagi pendatang yang belum memiliki pengalaman kerja.
Pengalaman ini benar-benar eye-opening. Aku jadi lebih memahami budaya, sistem pendidikan, dan peluang di Australia—bahkan membuka kemungkinan untuk kembali melanjutkan S2 di masa depan. Di luar pembelajaran akademik yang aku dapatkan dari SP Jain School of Management dan relevan dengan jurusanku di Binus, program ini menjadi salah satu milestone penting dalam academic plan-ku kedepannya.
Siapa sangka, satu program bisa memberikan begitu banyak insight tentang masa depan yang ingin aku bangun? Kalau kamu takut untuk memulai journey ini karena merasa tidak cukup pintar, trust me, aku juga! Semua juga begitu. And that’s exactly why it is worth trying.
Comments :