Tanggal 3 Agustus 2022 akan selalu terpahat dalam ingatan saya. Malam itu, selepas berkunjung dari rumah kawan di tengah malam yang sunyi, saya membonceng kekasih saya menyusuri jalanan sepi di daerah Karya Makmur, Kecamatan Pemali. Kami hanya ingin pulang, namun nasib berkata lain. Perjalanan sederhana itu berubah menjadi tragedi yang membelah hidup saya menjadi dua bagian: sebelum dan sesudah malam itu.

​Di tengah kegelapan, perjalanan kami dihentikan paksa oleh sekelompok pria yang belakangan saya ketahui di bawah pengaruh alkohol. Pertengkaran hebat meledak. Saat saya mencoba membela diri dan berhasil mendesak salah satu pelaku, sebuah rantai besi—jenis yang biasa digunakan untuk menggembok pagar—melayang di udara.

​Duar! Rantai itu menghantam tepat di mata kiri saya.

​Dunia yang Berubah Setengah

​Seketika, dunia saya menjadi gelap di satu sisi. Dalam keadaan setengah sadar dan penglihatan yang hilang separuh, saya dilarikan ke RS Medika Stania sebelum akhirnya dirujuk ke RS JEC Kebon Jeruk untuk menjalani operasi darurat.

​Saya ingat momen memilukan saat di rumah sakit; ketika saya mencoba meraih botol infus, tangan saya meleset. Persepsi jarak saya hancur. Di sana saya tersadar, mata kiri saya pecah dan buta permanen.

​Di tengah guncangan mental tersebut, kekasih saya, Chaca, membisikkan kata-kata yang menjadi jangkar bagi jiwa saya: “Gapapa, masih terlalu banyak hal yang harus kita syukuri. Termasuk aku yang sangat bersyukur bisa denganmu.” Kata-kata itu, bersama ketulusan ibu saya, perlahan membasuh rasa takut saya akan masa depan yang terlihat cacat.

​Keadilan dan Ketegasan

​Banyak orang mengira berdamai dengan keadaan berarti melepaskan segalanya. Namun, saya belajar bahwa keadilan adalah bagian dari proses pemulihan. Saat keluarga pelaku meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan agar dua pelaku utama tidak dipenjara, saya memberikan jawaban yang lahir dari kepedihan mendalam.

“Mau pelaku dihukum atau tidak, mata kiri saya tidak akan kembali,” ujar saya saat itu. “Tetapi mereka bukan hanya menghilangkan mata saya. Ada orang tua, teman, dan kerabat yang mereka sakiti hatinya. Jangan negosiasi ke saya, tanyakan kepada mereka.”

​Keluarga saya berdiri tegak di belakang saya. Maaf diberikan, namun hukum tetap berjalan. Dua pelaku utama akhirnya dijatuhi hukuman penjara. Bagi saya, ini bukan soal dendam, tapi soal tanggung jawab atas perbuatan yang merusak hidup orang lain.

​Melihat Lebih Jernih dengan Satu Mata

doc: Pribadi

​Proses pemulihan fisik memakan waktu sekitar tiga bulan. Uniknya, hobi lama saya bermain billiard justru memberikan perspektif baru. Kini, saya merasa lebih mudah saat “mengeker” bola karena tidak ada distorsi penglihatan dari mata satunya. Hal-hal kecil seperti menyetir motor dan menuruni tangga yang awalnya sulit, kini menjadi biasa.

​Kini, di tahun 2026, saya adalah mahasiswa semester 5 jurusan Mass Communication di Jakarta. Untuk mengisi waktu luang dan melatih kemandirian, saya bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek online (ojol). Menembus kemacetan Jakarta dengan satu mata mengajarkan saya untuk jauh lebih waspada dan menghargai setiap detik keselamatan.

​Tragedi 2022 memang mengambil penglihatan kiri saya, tapi kejadian itu memberikan saya cara pandang yang lebih jernih terhadap hidup. Saya tidak lagi malu. Bahkan, saya punya rencana besar setelah lulus nanti: menikahi Chaca, perempuan yang tetap menggenggam tangan saya meski saya tak lagi sempurna.

​Untuk Anda yang mungkin sedang menghadapi kehilangan atau keterbatasan, pesan saya hanya satu: Just do it. Lakukan apa yang bisa Anda lakukan dalam batasanmu. Jangan menunggu sempurna untuk melangkah, karena nikmat Tuhan selalu melimpah bagi mereka yang memilih untuk terus berjalan.