Dekonstruksi Pesan Media: Strategi Mahasiswa Komunikasi dalam Menganalisis Wacana Publik melalui Pendekatan Semiotika Roland Barthes
Dalam era digital yang dipenuhi arus informasi, mahasiswa komunikasi dituntut untuk memiliki keterampilan kritis dalam memahami dan menganalisis pesan media. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah semiotika Roland Barthes, yang memungkinkan mahasiswa untuk mengurai makna di balik tanda dan simbol dalam wacana publik. Pendekatan ini tidak hanya mengungkap makna denotatif—makna harfiah dari suatu pesan—tetapi juga makna konotatif yang tersembunyi di balik teks, gambar, atau simbol yang digunakan oleh media. Dengan memahami konsep ini, mahasiswa dapat melihat bagaimana ideologi, kekuasaan, dan kepentingan tertentu dikonstruksi dalam wacana publik serta bagaimana media menciptakan makna yang membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu isu atau peristiwa.
Strategi dekonstruksi pesan media melalui semiotika Barthes dilakukan dengan membedah mitos yang terkandung dalam teks media. Mitos dalam konteks ini merujuk pada narasi atau gagasan yang dianggap sebagai sesuatu yang alami dan tidak terbantahkan, padahal sebenarnya dibentuk oleh konstruksi sosial dan budaya. Misalnya, dalam pemberitaan politik, media sering kali membingkai tokoh tertentu sebagai pahlawan atau penjahat berdasarkan sudut pandang tertentu. Penggunaan kata-kata seperti “pemimpin visioner” atau “penguasa otoriter” dalam berita dapat membentuk citra tertentu di benak khalayak. Mahasiswa komunikasi yang memahami semiotika Barthes dapat mengidentifikasi bagaimana media menciptakan realitas semu melalui pemilihan kata, visualisasi, dan struktur naratif tertentu, serta bagaimana mitos ini dapat memperkuat atau menantang ideologi dominan.
Dengan menerapkan pendekatan ini, mahasiswa komunikasi tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga kritikus aktif terhadap wacana publik. Mereka dapat mengajukan pertanyaan kritis seperti, “Pesan apa yang ingin disampaikan media?” atau “Kepentingan siapa yang diuntungkan oleh konstruksi makna ini?” Kemampuan ini sangat penting dalam menghadapi era disinformasi dan propaganda yang semakin kompleks. Dengan demikian, dekonstruksi pesan media melalui semiotika Barthes menjadi strategi penting dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap cara media membentuk opini publik dan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap realitas sosial. Melalui analisis yang lebih mendalam, mahasiswa dapat memahami bahwa media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga agen yang membentuk makna dan wacana dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi:
Aningkurniawati, S. N., & Shofiyuddin, H. (2024). Dekonstruksi visual pada sampul Majalah Tempo edisi 13 “Jokowi (Dinasti Tiada Henti)” Analisis semiotika Pierce. Prosiding Konferensi Nasional Mahasiswa Sastra Indonesia (KONASINDO), 1, 596–608.
Irfandi, M. F. R., & Fathan, F. (2022). Representasi fanatisme suporter sepakbola dalam film Setia Bersamamu (Analisis semiotika Roland Barthes). UIN Surakarta.
Ramadhan, A. A., & Prasetyo, D. (2022). Analisis mitos kecantikan pada film Imperfect dengan semiotik Roland Barthes. DIGICOM: Jurnal Komunikasi dan Media, 2(1), 80–92.
Comments :