Talkshow Mata Najwa dengan tajuk ‘PSSI Bisa Apa?’ yang ditayangkan oleh Trans7 pada akhir November 2018 membuka tabir mengenai pengaturan skor,dimana pada acara tersebut ,membongkar busuknya internal sepakbola di Indonesia, mulai dari bandar judi, pengaturan skor, hingga anggota Exco PSSI yang berperan dalam segala aktifitas permafiaan sepakbola di Indonesia.

Terbongkarnya kedok para mafia seakan membuka mata masyarakat soal dugaan adanya kejanggalan dalam sepakbola Indonesia.  publik pun mulai menatap tim ibu kota Persija Jakarta yang baru saja mengunci gelar Liga Indonesia 2018, muncul asumsi-asumsi soal kemungkinan adanya praktik kotor yang dilakukan agar Persija dapat menjuarai liga, mulai dari sanksi sanksi ganjil yang diberikan kepada pesaingnya yaitu Persib Bandung, diundurnya jadwal pertandingan-pertandingan Persij., sampai tuduhan soal adanya pengaturan skor. Yang pasti, semua asumsi masyarakat masih menjadi tanda tanya hingga saat ini.

Pada acara tersebut, terbongkar beberapa praktik mafia, seperti manajer dari tim Madura FC yang bermain di Liga 2, mengatakan bahwa timnya menerima beberapa tawaran praktik manipulasi pertandingan yang ternyata, runner dari praktik kotor tersebut adalah anggota Exco PSSI yaitu Hidayat, dan Hidayat pun mengakui  bahwa dia menawarkan sejumlah uang kepada tim Madura FC untuk memanipulasi pertandingan.

Selain Hidayat, terangkat juga nama Vigit Waluyo, yang dituduh sebagai dalang pengaturan skor di sepakbola Indonesia. Pria yang berdomisili di Sidoarjo ini memang beberapa kali terlihat ada di stadion,  dan banyak yang mengatakan bahwa dirinya mengawasi jalanya pertandingan agar berakhir dengan skor sesuai permintaan.

Mafia bola ternyata tak cuma beraksi di level profesional. Mereka ada di mana-mana, bahkan di pekan olahraga provinsi dan kompetisi usia dini.

Kasus pengaturan skor menjadi sorotan setelah Aceh United vs PSMP Mojokerto pada November 2018. Penalti Krisna Adi Darma Tampak konyol dan tak masuk ke gawang hingga membuat PSMP tak mampu menyamakan kedudukan. Aceh United akhirnya berhasil menjadi pemenang dalam pertandingan di stadion Cot Gapu, Bireuen, Aceh. PSMP pun gagal ke babak empat besar, padahal mereka tinggal butuh tambahan satu poin untuk lolos.Secara kasat mata, eksekusi Krisna Adi tak mengarahkan bola ke gawang. PSMP pun diduga memberi jalan pada Semen Padang dan Kalteng Putra untuk melaju ke babak empat besar.

Lalu ada juga tuduhan soal adanya pengaturan skor pada turnamen usia dini yaitu Piala Soeratin, yang menunjukan bahwa bahkan mafia memanfaatkan pemain-pemain muda yang masih beum menyentuh level profesional. Banyak stakeholder sepakbola yang bereaksi.

Saking gregetean dan ingin tahu lebih jauh, masyarakat meminta Mata Najwa untuk kembali mengundang Stakeholder Sepakbola dan membuat episode ‘PSSI Bisa Apa Jilid 2’.

Pada episode “PSSI Bisa Apa Jilid 2” dimana pada acara tersebut mengundang mantan manajer Timnas Indonesia pada pagelaran Piala AFF 2010, Andi Darussalam.  Pada acara tersebut, beliau mengatakan bahwa masih terheran dengan bagaimana Timnas Indonesia bisa kalah pada leg pertama yang digelar di Stadion Bukit Jalil KL, Malaysia. Padahal, pada fase grup di Gelora Bung Karno, Timnas Indonesia menang mudah dengan mencukur malaysia  5-1.

Muncul lah kecurigaan kepada bek Timnas Indonesia saat itu, Maman Aburahman yang saat ini bermain untuk Persija Jakarta, banyak kalangan masyarakat yang menduga bahwa Maman menjadi dalang kekalahan 3-0 Timnas atas Malaysia , bersama 2 pemain lainya,yaitu sang kapten Firman Utina dan penjaga gawang Markus Haris Maulana, mereka dituduh sengaja bermain buruk dan mengalah dengan berbagai imbalan. Maman dan firman diperkirakan menerima sejumlah uang dan rumah mewah di kawasan elit di kota Bandung, sedangkan Markus menerima 1 unit mobil mewah. Para pemain yang dituduh pun bergerak cepat dengan membuat konferensi pers dan membatah tuduhan tersebut, dengan beberapa pemain pun mengatakan bahwa jika ada orang yang memiliki bukti soal adanya pengaturan skor, mereka siap di proses secara hukum dengan syarat adanya bukti yang valid

Adanya pemberitaan soal pengaturan skor di AFF 2010 seakan membangunkan kembali kecurigaan masyarakat selamat 8 tahun terakhir ini, banyak yang masih sakit hati dan tidak terima bagaimana bisa para peman yang dipercaya mewakili jutaan masyarakat rela untuk menjatuhkan harga diri bangsa demi uang dan harta.

Memang, dari rekaman video pertandingan terlihat sangat jelas dimana Maman dengan begitu mudahnya membiarkan Norshahrul Idlan Talaha melewatinya dan memberikan umpan kepada Safee Sali, dan Markus yang tidak mencoba melakukan penyelamatan saat sundulan Safee Sali di menit 70 merobek gawang Indonesia. tentunya masyarakat merasa sakit hati,bagaimana tidak, masyarakat di Indonesia dipersatukan oleh sepakbola, dari Sabang sampai Merauke mendukung timnas saat itu.

Saya ingat betul, di tempat saya menonton, banyak anak kecil dan remaja yang menangis saat Indonesia gagal meraih Trofi AFF 2010. Sejak piala AFF digelar, Indonesia tidak pernah sekalipun meraih gelar.

Masyarakat sudah haus akan prestasi, tetapi sepakbola Indonesia justru berantakan, semakin berantakan sampai hari ini, bagaimana kita mau berprestasi saat federasi kita dikendalikan orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri? Legenda sepakbola Indonesia Rochy Putiray pun pernah mengatakan bahwa kebusukan sepakbola kita sudah ada sejak dulu. “apapun usahanya, sepakbola kita tidak akan maju selama orang-orang yang duduk di kursi federasi  masih mementingan uang, bukan prestasi” ujarnya.

Setelah AFF 2010 pun, Timnas kita pernah dituduh megikuti praktik pengaturan skor pada ajang Sea Games 2015 yang dihelat di Singapura, dimana Indonesia kalah dua kali beruntun pada semifinal dan final dengan skor yang sama, yaitu kalah dari Thailand dengan skor 5-0 di semfinal, dan kalah 5-0 dari Vietnam diperebutan medali perunggu 2 hari kemudian. Tapi sama seperti tuduhan di piala AFF 2010, masih belum memiliki bukti yang valid, sehingga pertanyaan publik soal kasus-kasus tersebut masih menjadi tanda tanya.  Tentunya masyarakat kecewa dengan Timnas maupun Federasi. Karena mereka menganggap bahwa para pemain seakan menjual harga diri bangsanya di mata internasional.

Sebenarnya banyak pertimbangan mengapa sebuah klub atau beberapa pemain mau menerima tawaran praktik kotor dari para mafia. Mulai dari kesehatan klub, faktor kepentingan pribadi dan faktor ekonomi. Jika sebuah tim ada dalam kondsi sehat secara internal ataupun eksternal, kecil kemungkinan tim tersebut menerima tawaran bandar judi. Seorang pemain pun juga begitu, jika gaji dari klub lancar dan dapat memenuhi kebutuhan pemain , maka pemain tersebut akan berkomitmen untuk bermain sepenuh hati untuk klub. Tetapi jika klub menelantarkan pemainya, menunggak gaji pemain dan tidak memenuhi kebutuhanya, maka kemungkinan besar sang pemain pun akan menerima tawaran dari bandar judi karena alasan ekonomi seperti tidak ada sumber pendapatan lagi karena penunggakan gaji dari klub. Jadi, jalan atau tidaknya praktik tersebut menyangkut semua pihak seperti federasi, klub , dan pemain.

Adanya berita buruk soal sepakbola kita ini akan mempengaruhi banyak pihak dan yang paling saya khawatirkan adalah para anak-anak dan pemain muda yang akan menjadi bibit-bibit sepakbola kita di masa depan, betapa terkejutnya mereka melihat senior-senior mereka yang terlibat konflik dan polemik, banyak orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi pemain bola, dimana seharusnya seseorang bisa mengejar cita-citanya, menunjukan kecintaan pada negara lewat Sepakbola.

 

ROHAN – LD51

MARCOMM