Ketika Hati Berkata YA dan Pikiran Berkata TIDAK

Sering kali, dalam hidup ini kita dipertimbangkan dan dijebak dalam keputusan yang akan kita pilih. Masing – masing dari hasil keputusan ini memberikan makna yang berbeda – beda. Apapun yang kita pilih dan apapun dampaknya kita tidak dapat kembali lagi terhadap keputusan tersebut. Hidup ini seperti jalan tol, hanya terdapat satu arah, dan tidak bisa mundur. Tuhan menciptakan hati dan pikiran kepada manusia dengan satu alasan. Alasan inilah yang belum kita ketahui.

Biasanya dalam memutuskan suatu keputusan, kita sebagai manusia dikaitkan dengan yang namanya masalah. Selama kita hidup, tidak mungkin kita terbebas dari belenggu masalah. Masalah akan selalu datang secara tak terduga-duga dan menyusup dibalik setiap ketenangan yang ada. Oleh karena itu, satu – satunya cara bagi kita adalah bagaimana menemukan sebuah solusi yang dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Tetapi, dengan pikiran dan akal sehat kita, akhirnya kita setiap manusia berusaha untuk mengatasi masalah demi masalah yang dihadapi. Setiap masalah yang kita hadapi, secara sistematis dan beruntun membuat kita mengetahui bagaimana hal itu terjadi. Sehingga akhirnya terbentuklah sebuah pola dimana kita akan menemukan beberapa solusi dari seluruh persoalan yang ada. Namun meski solusi telah muncul, kita masih dihadapi keraguan solusi manakah yang tepat. Kita pun menjadi ragu-ragu dan bimbang. Apakah pilihan yang kita pilih telah tepat? Jangan-jangan solusi yang kita pilih membuat masalah itu melebar, bahkan sampai memberikan masalah baru yang tidak terduga. Ketidakyakinan akan solusi yang kita pilih dari hasil pemikiran kita akhirnya menyebabkan kita terbelenggu kepada masalah itu tanpa bergerak kemana-mana. Semakin kita pikirkan semakin sulit menemukan sebuah solusi yang terbaik. Ini saatnya bagi kita untuk tidak terus-menerus menggantungkan penemuan solusi kepada pikiran kita. Mungkin saatnya rasio ditinggalkan dan beralih kepada hati kita. Disinilah hati berperan dan pikiran mulai ditinggalkan. Akibatnya, kita mulai bimbang dan semakin bertanya – tanya tentang keputusan dan jawaban yang kita pilih.

Hal yang harus kita semua ketahui yaitu, hati berpikir secara emosi, mengungkapkan perasaan yang tidak mungkin bisa digambarkan secara logis. Sedangkan pikiran lebih cenderung secara rasional dan praktis. Mendapatkan jawaban saat menentukan keputusan seringkali terletak pada situasi dan pengalaman kita. Sederhananya, hati itu berpikir perasaan dan pikiran berpikir logika. Namun, hal ini sering lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Hati dan pikiran kita ibarat dua penasehat, terkadang berbeda pendapat. Mereka memainkan perannya dengan cara yang berbeda dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Jadi, hati dan pikiran memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Dalam hal berpikir, kita, masing-masing setiap manusia memiliki pola pikir yang berbeda-beda saat diperhadapkan dengan masalah. Saat kita lebih mengedepankan pikiran maka hasilnya akan lebih menekankan penilaian dari aspek logika. Sedangkan saat kita mengedepankan untuk menggunakan hati maka hasilnya akan memandang semua hal dari aspek emosional. Jika kita pantau dari tujuan nya, setiap kita yang berpikir menggunakan hati maka biasanya akan terbentuk karakteristik yang lebih darmawan, bijaksana, dan lebih suka memberi. Jika kita yang berpikir menggunakan pikiran maka biasanya akan terbentuk karakteristik yang berotak canggih dan selalu berhubungan dengan tingkat kecerdasan atau analisis dalam bidang tertentu. Disini sudah terlihat jelas hasil perbedaan nya. Kita yang berpikir menggunakan hati dalam bersikap cenderung mengasihi sesama dengan menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Sedangkan kita yang mempunyai pikiran biasanya dihubung-hubungkan dengan kemampuan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan (biasanya dalam bisnis, ekonomi, pendidikan, dan sosial). Intinya yang selalu mengutungkan. Setiap ada hasil pasti ada manfaatnya. Hati manfaatnya ke luar sedangkan pikiran manfaatnya ke dalam. Maksudnya apa? Maksudnya adalah, saat kita memilih untuk menggunakan hati dalam bersikap berarti segala sesuatu yang diekspresikan ditujukan untuk mendatangkan dampak ke luar (kepada orang lain). Sedangkan ketika memutuskan untuk menggunakan pikiran dalam bersikap berarti dampak yang dihasilkan ke dalam (untuk diri sendiri). Sehingga, saat kita memutuskan untuk lebih menggunakan hati dalam menjalani hidup, berarti fokus yang ditujukan hanya untuk orang lain. Seperti bagaimana caranya membuat orang lain bahagia dengan keberadaan kita? Ataupun bagaimana caranya kita supaya orang tersebut tidak bersedih? Dan lain sebagainya. Intinya lebih kepada empati. Ketika kita memutuskan untuk menggunakan pikiran dalam menjalani hidup berarti fokus yang ditujukan hanya untuk diri sendiri. Seperti bagaimana caranya agar kita bahagia menjalain hidup di dunia ini? Ataupun bagaimana caranya untuk menjadi orang sukses di negeri ini? Dan lainnya. Intinya lebih bersifat egoisme. Biasanya, saat kita mampu bekerja dengan hati maka semuanya akan dilakukan dengan penuh penghayatan dimana setiap detik yang dilewatkan dinikmati apa adanya. Tetapi saat anda bekerja dengan pikiran berarti semuanya harus dipertimbangkan dan diperhitungkan matang-matang agar tidak sampai mendatangkan kerugiaan terutama bagi diri sendiri.

Kadang – Kadang dengan banyaknya perbedaan ini membuat lingkungan atau subjek dan aspek sosial membuat mereka tidak mengetahui kebenarannya dan menurut saya ini menjadi hal yang konyol. Seperti pengalaman yang saya alami. Saat itu saya sedang duduk di sebuah Café untuk nongkrong dengan teman – teman. Namun, keseruan dan kebahagiaan saya dan teman – teman terusik dengan pasangan suami istri yang bertengkar karena masalah sesuatu. Sang istri dengan keras berteriak “dimanakah pikiranmu?!” Sang suami secara spontan menunjuk kepalanya. Lalu ia bertanya balik kepada istrinya “dimanakah hatimu?!” Sang istri secara spontan menunjuk ke arah dadanya bagian kiri. Hal ini membuat saya sedikit ambigu. Hati yang dimaksudkan itu jantung atau hati (liver, ulu hati)? Karena dengan jelas sang istri menunjuk ke arah dadanya bagian kiri yang menunjukan kalau itu jantung. Tidak lama dari itu, mereka membuat suatu pernyataan kalau sang istri “tidak punya hati”. Sedangkan sang suami mendapat julukan “tidak punya pikiran”. Lalu, teman saya menjawab beradasarkan sepengetahuan yang ia miliki kalau manusia yang tidak punya hati dalam waktu kurang dari 6 bulan akan mati. Karena dia tidak mempunyai hati untuk memfilter darah yang berunjuk pada penyakit liver. Sedangkan yang tidak punya pikiran dalam waktu singkat akan mati karena sudah tidak punya pikiran lagi atau otak. Kenyataan inilah yang membuat kita semua kebingungan dan konyol. Padahal dalam artiannya jika kita pertinjau dari masalah diatas yang dimaksud adalah “tidak punya hati” biasanya dikatakan kepada seseorang yang cenderung tidak memiliki rasa kemanusiaan kepada sesamanya. Sedangkan tidak punya pikiran biasanya dikatakan kepada orang yang bodoh dalam bersikap atau saat menyelesaikan sesuatu. Sederhananya, saat kita berhasil menyentuh hati maka sebuah tindakan yang dapat membuat iba dan kagum dengan orang lain. Jangkauan pikiran adalah seseorang berhubungan dengan tingkat kecerdasan sehingga untuk menyentuhnya berarti memberikan atau menyatakan sesuatu yang logis.

Untuk menghasilkan keputusan yang akurat dan tepat, selain kita telah mengetahui perbedaan hati dan pikiran yang signifikan maka tugas kita selanjutnya adalah membuat hati dan pikiran kita bersatu untuk berkerja sama serta memanfaatkannya agar jawaban dan keputusan yang dipilih tidak penuh kebimbangan. Agar keduanya bisa saling bekerja sama maka mulailah dengan berbicara dengan hati dan pikiran sesuai peran masing-masing. Pemikiran logis kita mungkin mencoba untuk memberikan jawaban yang paling rasional, tetapi harus sama pentingnya mempertimbangkan alasan dengan menggunakan hati. Meskipun mungkin membuat kita sedikit membingungkan, berilah sedikit waktu kepada diri kita sendiri untuk menarik nafas halus dan panjang. Tujuan nya untuk menenangkan hati dan pikiran. Biasanya disaat seperti inilah jawaban dan keputusan kita seketika akan muncul. Kemudian kita harus memperhatikan pentingnya isyarat tubuh kita dan berbagai tanda yang dipancarkan terhadap situasi atau orang secara spontan maupun tidak disengaja. Tanpa sadar atau secara tidak sengaja, tubuh kita memiliki mekanisme tersendiri seperti memancarkan sinyal setiap kali kita dihadapkan pada situasi, orang, atau kesempatan tertentu. Seperti memberi sebuah clue atas sebuah jawabam. Cermati tanda yang diberikan tubuh kita, ini merupakan cara yang bagus untuk mengidentifikasi pemikiran yang tepat atas subjek. Misalnya, saat kita sedang berada dalam kuburan malam – malam dan dada kita terasa sesak untuk bernafas dan perut tiba-tiba terasa mual yang menunjukkan kalau kita sedang dalam situasi dan kondisi yang sangat takut. Hal ini membuat pikiran dimana dia selalu memicu perasaan takut dan mencegah kita untuk mengambil risiko atau menerima tantangan. Itulah sebabnya antara pikiran dan hati selalu bertolak belakang. Kebanyakan kita hidup hanya didasarkan pikiran yang logis, tetapi ketika kita mampu ‘mendamaikan’ hati dan pikiran, maka segala hal yang sedang kita hadapai menjadi lebih mudah untuk diatasi. Artinya disini terbentuk sebuah “batin”. Seperti contoh di atas tadi, jika kita berhasil mendamaikan hati dan pikiran, ketika kita berada dalam kuburan dan kita takut dan berhasil melawan serta mendamaikan nya maka tidak akan terjadi apa – apa. Lalu, kita harus fokus terhadap masalah atau persoalan yang terjadi. Seringkali kita setiap kali ada masalah kita pasti akan mengundang faktor eksternal. Ini bisa datang dalam bentuk orang, sumber daya, atau situasi. Jika memang Anda dihadapkan pada situasi seperti ini, lebih baik kita ingat – ingat dan berbicara berulang – ulang untuk mendamaikan hati dan pikiran. Karena hanya kitalah dan bukan orang lain yang dapat menyelesaikan masalah. Tuhan membuat masalah dalam hidup kita berbeda – beda untuk kita dapat bertanggung jawab dan dapat berkerja sama antara hati dan pikiran agar masalah yang dilewati dapat diselesaikan. Jadi bukan orang lain yang menyelesaikan nya, melainkan kita sendiri. Ingatlah, bahwa kita adalah kunci dari setiap permasalahn yang kita hadapi dan sebenarnya kita sendirilah yang memegang semua jawaban.

Menurut saya pribadi, setiap permasalahan dan persoalan yang terjadi, gunakanlah hati kita. Hati itu tidak pernah berbohong, yang berbohong itu adalah pikiran kita. Karena hati sifatnya tidak terbatas, beda dengan pikiran yang ‘lebih’ suka melihat dari sisi negatifnya terlebih dahulu. Gunakanlah hati kita yang telah diciptakan-Nya untuk membimbing kita selalu tetap di jalan yang seharusnya dipersiapkan-Nya. Hilangkan pikiran-pikiran jahat yang dapat mengeluarkan kita dari jalur itu. Berikanlah kesempatan kepada hati kita untuk menuntun diri kita menemukan sebuah solusi dari setiap permasalahan. Dan jagalah hati kita untuk selalu bersih. Selama hati kita bersih, maka akan menempatkan masalah pada tempatnya. Kekuatan hati ini memiliki kedahsyatan yang melebihi kekuatan pikiran manusia. Dalam kejernihan hati, akan tampak sifat – sifat mulia manusia yang tertanam dalam hatinya. Tentu sangat jelas bahwa, hati yang jernih akan melahirkan pikiran – pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan – tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani. Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu betindak bijaksana, memiliki semangat positif, cerdas dan berbagai sifat – sifat mulia lainnya. Dengan hati yang jernih, kita dapat berpikir jernih dan menjalani kehidupan dengan lebih produktif, lebih semangat, lebih efisien dan lebih efektif untuk meraih tujuan. Sebenarnya, Tuhan telah menunjukkan kepada kita melalui berbagai ajaran yang dibawakan-Nya oleh para Nabi, maupun melalui kitab suci-NYA telah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mendengarkan suara hati nuraninya. Mengajarkan manusia untuk dapat memelihara kejernihan hatinya. Karena didalam hati manusia sudah tertanam sifat – sifat “Illahiah” dari Tuhan. Seperti, sifat kepedulian, kesabaran, kebersamaan, cinta dan kasih sayang, bersyukur, ikhlas, damai, kebijaksanaan, semangat, dan lain sebagainya. Karena itu kuatan hati ini sangat “powerfull” untuk meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan. Hati merupakan cerminan dari diri dan hidup manusia secara keseluruhan. Sederhananya, hati adalah tempat dimana semua yang hal yang terindah, hal yang terbaik, termurni, dan tersuci yang berada didalamnya.

Permasalahannya adalah dalam dunia yang modern banyak sekali berbagai godaan kehidupan yang seringkali dapat mengotori kejernihan hati. Sikap egoisme, mementingkan hawa nafsu, mengikuti ambisi meraih kekuasaan dengan menggunakan segala cara (dukun, dan lainnya) dan berbagai emosi-emosi negatif seperti amarah, dendam, benci dan iri hati dapat menjadikan kejernihan hati kita terbelenggu. Inilah yang dapat melemahkan kehidupan umat manusia. Kalau dibiarkan, dapat menjadikan kita semakin sulit mendengarkan bisikan hati dan lebih mempercayai atau mengandalkan kemampuan otak serta produk-produk pikiran atau akal semata. Hal ini yang akan melahirkan ketidak seimbangan antara kemampuan nalar dengan hati nurani, sehingga melahirkan berbagai masalah dalam kehidupan. Contoh gampangnya, pernahkan kita ingat pertama kali kita ingin berbuat jahat, ada bisikan halus yang selalu mengingatkan kita “jangan lakukan itu”. Itulah hati, namun seringkali kita justru menghiraukannya. Kita lebih percaya kepada pikiran kita yang tidak mau kalah dengan hati berusaha meyakinkan diri kita dengan berbicara “sudahlah tidak apa-apa, sekali-kali boleh”. Mulai saat itu sebenarnya kita telah terjebak permainan pikiran kita sendiri. Lebih parahnya lagi kita jadi terbiasa di manipulasi oleh pikiran kita yang membuat ‘sekali-kali boleh’ itu menjadi sebuah kebiasaan dan pada akhirnya membentuk karakter diri kita yang kurang baik.

Untuk itu, kita, lebih baik menggunakan hati kita yang jujur dari pada pikiran kita yang cenderung manipulatif. Memang awalnya serasa sulit, namun percayalah kita akan melihat perbedaan seiring waktu kita menggunakannya. Jernihkanlah hati terus menerus, jangan berfokus hanya pada pikiran belakan. Karena jika hati bersih, pikiran kita pun akan bersih. Serta, Jadikanlah hati nurani kita sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Baik maslah, maupun persoalan akan terlewati secara indah, damai dan gampang.

Hiskia Mayendra Kurniawan 2101634054