{"id":86,"date":"2025-03-24T09:47:24","date_gmt":"2025-03-24T09:47:24","guid":{"rendered":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/?p=86"},"modified":"2025-03-24T10:02:12","modified_gmt":"2025-03-24T10:02:12","slug":"86","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/2025\/03\/24\/86\/","title":{"rendered":"Dari K-Drama ke Realita: Penyebaran Budaya Makanan dan Gaya Busana Korea dalam Perspektif Komunikasi"},"content":{"rendered":"<p>Di era globalisasi, <strong>media sebagai alat komunikasi budaya<\/strong> telah memainkan peran penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai budaya suatu negara. Salah satu fenomena yang mencerminkan hal ini adalah kepopuleran <strong>K-Drama (Korean Drama)<\/strong> yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang memperkenalkan gaya busana dan makanan khas Korea Selatan ke seluruh dunia.<\/p>\n<p>Melalui berbagai adegan dan alur cerita, <strong>K-Drama menjadi medium komunikasi yang efektif dalam membentuk persepsi, menanamkan citra budaya, serta mempengaruhi kebiasaan konsumsi dan gaya hidup masyarakat global.<\/strong> Artikel ini akan menganalisis bagaimana penyebaran budaya makanan dan fashion Korea melalui K-Drama dapat dijelaskan dalam konteks komunikasi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-88 aligncenter\" src=\"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar17-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar17-300x200.jpg 300w, https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar17-480x320.jpg 480w, https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar17.jpg 668w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-87 aligncenter\" src=\"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar18.jpg\" alt=\"\" width=\"295\" height=\"201\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em><span style=\"font-size: 10pt\">Sumber : TvN<\/span><\/em><\/p>\n<ol>\n<li><strong> K-Drama Sebagai Alat Komunikasi Antarbudaya<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) merupakan proses di mana pesan dan nilai-nilai budaya dari satu komunitas disampaikan kepada komunitas lain. Dalam konteks ini, K-Drama menjadi media komunikasi massa yang efektif dalam membangun pemahaman lintas budaya.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Teori Komunikasi Naratif (Narrative Paradigm \u2013 Walter Fisher)<\/strong><br \/>\nTeori ini menjelaskan bahwa manusia memahami dan merespons dunia melalui narasi. K-Drama sebagai bentuk komunikasi naratif memungkinkan audiens untuk terhubung secara emosional dengan budaya Korea melalui cerita yang ditampilkan.<\/li>\n<li><strong>Media sebagai Soft Power<\/strong><br \/>\nMenurut teori soft power oleh Joseph Nye, media hiburan seperti K-Drama dapat digunakan sebagai alat diplomasi budaya yang secara tidak langsung memperkenalkan kebiasaan, gaya hidup, dan nilai-nilai Korea Selatan kepada audiens global.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-89 aligncenter\" src=\"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar19.jpg\" alt=\"\" width=\"492\" height=\"277\" srcset=\"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar19.jpg 492w, https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar19-300x169.jpg 300w, https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-content\/uploads\/files\/sites\/3\/2025\/03\/Gambar19-480x270.jpg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 492px) 100vw, 492px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em><span style=\"font-size: 10pt\">Sumber : Netflix<\/span><\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Fashion dalam K-Drama: Komunikasi Identitas dan Tren Global<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Fashion dalam K-Drama bukan sekadar elemen estetika, tetapi juga merupakan <strong>bentuk komunikasi identitas<\/strong>. Setiap karakter dalam drama menyampaikan kepribadian, status sosial, dan emosi melalui pakaian yang mereka kenakan.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Hanbok sebagai Representasi Budaya<\/strong><br \/>\nDalam drama bergenre <em>saeguk<\/em> (drama sejarah), penggunaan hanbok berfungsi sebagai komunikasi simbolik yang menggambarkan warisan budaya Korea. Penggunaan pakaian tradisional ini dalam K-Drama tidak hanya melestarikan identitas nasional, tetapi juga menumbuhkan ketertarikan global terhadap budaya Korea.<\/li>\n<li><strong>Korean Style dan Komunikasi Nonverbal<\/strong><br \/>\nDalam K-Drama modern, fashion menjadi bagian dari komunikasi nonverbal yang mengungkap status sosial, preferensi, dan bahkan dinamika karakter. Tren <strong>&#8220;Korean Style&#8221;<\/strong> yang muncul dari drama seperti <em>Crash Landing on You<\/em> atau <em>Goblin<\/em> menjadi bentuk komunikasi visual yang berdampak pada audiens internasional.<\/li>\n<li><strong>Efek K-Drama dalam Teori Imitasi (Imitation Theory \u2013 Gabriel Tarde)<\/strong><br \/>\nMenurut teori ini, manusia cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di media. K-Drama menciptakan tren fashion yang diikuti oleh penonton global, mengubah kebiasaan berpakaian dan gaya hidup mereka.<\/li>\n<\/ul>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Kuliner dalam K-Drama: Media Komunikasi Rasa dan Budaya<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain fashion, makanan khas Korea juga menjadi bagian dari komunikasi budaya yang ditampilkan dalam K-Drama. Melalui adegan makan, ekspresi aktor, dan narasi cerita, makanan bukan hanya sebagai latar, tetapi juga sebagai <strong>alat komunikasi emosional dan sosial<\/strong>.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Komunikasi Sosial Melalui Makanan<\/strong><br \/>\nDalam budaya Korea, makan bersama adalah bagian penting dari komunikasi interpersonal. K-Drama sering menampilkan adegan makan sebagai simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga, seperti dalam drama <em>Let&#8217;s Eat<\/em> atau <em>Hospital Playlist<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Penyebaran Kuliner Melalui Media \u2013 Teori Agenda Setting<\/strong><br \/>\nTeori ini menjelaskan bahwa media memiliki kekuatan untuk mengarahkan perhatian publik pada isu tertentu. Dengan seringnya makanan Korea muncul dalam K-Drama, perhatian audiens global tertuju pada kuliner Korea, sehingga memicu tren konsumsi makanan Korea di berbagai negara.<\/li>\n<li><strong>Food Symbolism dalam Komunikasi Budaya<\/strong><br \/>\nMakanan tertentu dalam K-Drama memiliki makna simbolik. Misalnya, <strong>ramyeon<\/strong> sering kali dikaitkan dengan kencan atau hubungan romantis, sementara <strong>kimchi<\/strong> melambangkan identitas nasional Korea.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Fenomena kepopuleran K-Drama tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memainkan peran penting dalam <strong>komunikasi budaya dan penyebaran tren global<\/strong>. Melalui fashion dan makanan yang ditampilkan, K-Drama berfungsi sebagai medium komunikasi lintas budaya yang memperkenalkan gaya hidup Korea kepada dunia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di era globalisasi, media sebagai alat komunikasi budaya telah memainkan peran penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai budaya suatu negara. Salah satu fenomena yang mencerminkan hal ini adalah kepopuleran K-Drama (Korean Drama) yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang memperkenalkan gaya busana dan makanan khas Korea Selatan ke seluruh dunia. Melalui berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":664,"featured_media":87,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-86","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/664"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86\/revisions\/100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/communication.binus.ac.id\/creative-comm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}